Daily Archives: July 11, 2012

Tundukkan Pandangan, sucikan Hati

Dari forward email sahabat kepada wanhayati pada 15 Jan 2006.

Assalammualaikum…buat pembaca-pembaca budiman,sekadar renungan kita bersama…

Kesyumulan Islam itu tidak dapat dipertikaikan lagi dari sekecil-kecil perkara hingga sebesar-besarnya tidak dipandang sunyi oleh Islam.Bahkan dari segenap aspek turut dititik beratkan kepada penganutnya agar dapat melahirkan hamba Allah yang soleh dan patuh kepadaNya.Di situlah kekuatan agama suci Allah yang mana amat beruntung bagi orang-orang yang memahami keindahan Islam itu.Antara aspek yang dititik beratkan oleh Islam adalah tundukkan pandangan.

Tundukkan pandangan merupakan amalan yang dianggap remeh dan diambil mudah segelintir dari kita.Ia berikutan menundukkan pandangan seolah-olah tidak memberi apa-apa impak kepada diri mahupun masyarakat.Namun,sebagai muslim sejati tundukkan pandangan adalah suatu suruhan Illahi yang tidak boleh dipandang mudah kerana ia melibatkan diri individu itu sendiri meskipun kesannya tidak kepada masyarakat secara total sebagaimana firman Allah SWT mafhumnya,

“katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangan-pandangannya dan memelihara kemaluannya.Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yg mereka perbuat.Katakanlah kpd wanita-wanita yg beriman,hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” 

(surah an-nur:30-31)

       Sabda Rasulullah SAW mafhumnya

” Jaminlah kalian kepadaku akan 6perkara ini nescaya aku jamin syurga utk kalian; iaitu bercakap benar dlm percakapan,menunaikan janji,melaksanakan amanah,memelihara kemaluan,menundukkan pandangan, dan menghindari dari menyakiti org lain”

(riwayat Ahmad,Ibn Dunya,Ibn Hibban dan al-hakim)

      Mata antara anugerah tidak ternilai Allah kepada manusia. Ia merupakan bukti kesempurnaan Yang Maha Agung dan rahmat untuk kita. Justeru menyedari hakikat ini, sewajarnya anugerah itu dipelihara sebaik mungkin agar tidak merosakkan anggota-anggota lain.

Tundukkan pandangan dari melihat perkara-perkara yang diharamkan dan syubhah telah termaktub di dalam al-quran sebagaimana yang disebutkan di awal tadi.Allah SWT mengaitkan perintah tundukkan pandangan dengan pelihara kemaluan seiringan seolah-olah membuktikan kepada kita bahawa dengan pandangan akan menyebabkan pelbagai perkara buruk terutamanya zina.Dimanakah logiknya? Muslim yg beriman sekali-kali tidak akan mempersoalkan kelogikan suruhan Allah kerana sesuatu yg diperintahkan kepada kita demi kebaikan manusia dan selari dgn fitrah sejagat.

      Suatu hari sahabat Fudhail Ibn Abbas RA telah menjadi peserta yg mengikut  Rasulullah SAW pada hari raya A’iduladha (10 Zulhijjah) dari Muzdalifah ke Mina. Dlm perjalanan sekumpulan wanita yg menaiki sekedup telah memukau pandangan sahabat itu. Lantas beliau melihatnya.Maka serta-merta Rasulullah SAW menolak kepalanya ke arah lain utk menghalang dari melihat ke arah wanita-wanita itu.

(riwayat Bukhari,Muslim&Tarmizi)

      Namun begitu, terdapat beberapa keadaan dan situasi yang mengharuskan pandangan.Antaranya ketika bermuamalah,persaksian,menuntut ilmu,merawat dan pertunangan.Sungguhpun begitu,tidaklah sampai menimbulkan fitnah dan melampaui batas-batas syariat.

       10 faedah tundukkan pandangan:

1) sebagai salah-satu jalan mensucikan hati

2) menutup pintu-pintu fitnah

3) mengosongkan hati dari kekusutan

4) memudahkan ilmu sampai ke hati

5) mewariskan kemahiran dan kebijaksaan serta cahaya penglihatan

6) Allah menggantikan tundukkan pandangan dgn nur penglihatan hakiki

7) mewariskan kekuatan, istiqomah dan keberanian di hati

8) mewariskan kegembiraan dan kesenangan di hati melebihi dari kelazatan pandangan.

9) meleraikan ikatan syahwat, hawa nafsu dan kelalaian yg terbuku di hati

10) menutup salah-satu pintu neraka.

       Melihat kepada kebanyakan kerosakan dan kemaksiatan yang berlaku berpunca dari pandangan mata, maka wajarlah ia dibendung dari awal kerana dengan mata akan turun ke hati dan dari kerosakan hati akan mencetuskan pelbagai kemaksiatan yang lain yang akhirnya membawa ke neraka. Na’uzibillah in zalik.

Oleh itu peliharalah pandangan anda. Sekiranya anda seorang penuntut ilmu maka tundukkan pandangan itu adalah penyebab mudahnya ilmu sampai ke hati kerana ilmu Allah nur dan nur Allah tidak akan masuk ke dalam hati-hati yg dipenuhi maksiat.Maksiat hati berpunca daripada pandangan kerana pandangan adalah panahan iblis yg tajam.

Allah Ta’al telah menjadikan mata sebagai cermin bagi hati.Apabila tunduknya pandangan mata maka tertunduklah syahwat dan keinginan yang lahir dari hati.Dan apabila mendongakkan pandangan, seolah-olah mengundang syahwat dan nafsu di hati.Renungilah kalamullah yang mafhumnya:”Dia mengetahui (pandangan) mata yg khianat dan apa yg disembunyikan oleh hati”

Moga dengan sedikit renungan ini mampu mengubah diri kita bersama.Seandainya kita tidak mampu utk melakukan semua akan tetapi janganlah ditinggalkan semua.Muhasabahlah diri kita sebelum tibanya waktu yg dijanjikan.Wallahu a’lam…sebar-sebarkan..nasihat ini.Terima kasih…jazakallahu khair.

Taubat Seorang Pelacur menjadi sebab turun Ayat 33 Surah Annuur

Hari itu, Abdullah bin Ubay bin Salul –tokoh kaum munafik– sedang istirahat, melepas penat dan lelah. Tetapi istirahat Ibnu Salul harus terusik kerana penjaga rumah tiba-tiba mengetuk pintu. Ibnu Salul terpaksa bangun dan melihat penjaga bermuka sedih di depannya. Di tangan penjaga itu ada segenggam wang. Wang itu ternyata hasil kerja pegawainya, tapi Ibnu Salul gusar sebab wang itu jumlahnya tak seperti yang diharapkan. “Sesungguhnya, wang sebesar ini adalah hasil kerja setengah hari bukan hasil kerja sehari penuh…” ujar Ibnu Salul berang. Tak ingin dituduh menggelapkan wang maka penjaga rumah itu lantas mencelah, “Tahukah tuan, kenapa penghasilan tuan sekarang ini menurun?” “Ya, aku tahu! Semua ini gara-gara Muhammad telah merampas mahkotaku. Ia menjadikan orang-orang menjauh dari budak-budak wanitaku lantaran mereka terpengaruh ajaran-ajaran yang diserukan oleh Muhammad.” Bersamaan itu, Ibnu Salul mendengarkan suara orang memanggil namanya. Ia kemudian menyuruh penjaga rumahnya untuk melihat siapa yang datang dan penjaga rumah cepat-cepat keluar. Sekeluar dari kamar, penjaga rumah mendapati beberapa orang dari Bani Tamim yang berkunjung ke Madinah. Penjaga rumah sudah mengenal mereka, yang tidak lain adalah para pembesar dari Bani Tamim yang selalu menginap beberapa hari di tempat Ibnu Salul untuk bersenang-senang setiap kali mereka kembali dari berdagang atau perjalanan dari Syam.

“Di manakah tuanmu, Ibnu Salul?” tanya salah seorang dari mereka. “Ada di dalam…” jawab penjaga rumah Tidak ada rasa canggung, para pembesar Bani Tamim itu kemudian masuk. Ibnu Salul cepat-cepat menyembunyikan wang di kamar, lantas segera keluar untuk menemui mereka. Ibnu Salul menyambut dengan hormat dan mereka pun membalas.

“Manakah wanita yang dulu pernah Anda kirimkan untuk kami?”  tanya seorang lelaki di antara para pembesar Bani Tamim itu. “Wanita yang mana, ya? Mereka itu banyak….,” jawab Ibnu Salul. “Budak wanita Anda yang paling cantik!” “Apakah dia itu Masikah?” tanya Ibnu Salul. “Ya, dia! Tidak salah lagi… ” jawab seorang laki-laki, dengan girang. “Nanti akan kami kirim dia untuk kalian semua bersama yang lainnya jika mereka mau…” “Segeralah, wahai Abul Hubab, segeralah… Nanti kami akan memberinya wang sebagai upah kepadanya.” Tak sabar ingin cepat mendapat upah, Ibnu Salul pun menyuruh penjaga rumah untuk memanggil Masikah serta budak-budak wanita yang lain. Tetapi penjaga rumah menukas, “Masikah tidak mau lagi melakukan hal itu, Tuan.” “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” ujar Ibnu Salul gusar. “Hal ini terjadi sejak hari ini, Tuanku. Ia telah meluruskan pikirannya…”

Ibnu Salul pun bangkit, pergi ke kamar Masikah dan mendorong pintu dengan kakinya. Tetapi betapa terkejutnya Ibnu Salul, saat ia melongok ke kamar ternyata mendapati Masikah, budak wanita yang ia miliki sedang menunaikan shalat. Ibnu Salul tercekat, melihat perubahan yang terjadi pada Masikah. Maka tanpa banyak berkata, Ibnu Salul mendekat dan mendera Masikah dengan kasar. “Celaka kamu! Muhammad rupanya telah mempengaruhimu!” “Tidak,” jawab Masikah setengah terkejutt “Justeru Beliau telah menunjukkan jalan terang padaku tentang kebenaran…” Jawaban Masikah seketika membuat Ibnu Salul murka. Dia kembali mendera Masikah, menyepak budak itu dengan kakinya. Masikah pun terluka. Lantas Ibnu Salul keluar, seraya memendam geram dan kecewa. Penjaga yang melihat itu berujar, “Biar aku bicara padanya, Tuan, agar ia bisa kembali seperti sediakala.”

Penjaga rumah Ibnu Salul itu memasuki kamar Masikah bersama seorang wanita. Tatkala dia melihat keadaan Masikah yang terluka, ia ikut hiba. Wanita yang ikut bersama penjaga rumah, kemudian menyuruh membalut luka yang diderita Masikah dan mengambilkan buah. Penjaga rumah itu kemudian bertanya tentang apa yang diperbuat Ibnu Salul setelah dia didatangi tamu dari Bani Tamim yang ternyata menaruh minat terhadap Masikah. Setelah itu, penjaga rumah menjelaskan bahwa orang-orang dari Bani Tamim yang menghendaki Masikah itu akan memberikan harta sebagai tebusan bagi anaknya kelak jika Masikah melahirkan. “Demi Allah, aku tak akan mendurhakai Allah lagi meskipun tubuhku dipotong-potong!” tegas Masikah.

Masikah sudah lama menjadi budak wanita Ibnu Salul. Tetapi, Ibnu Salul ternyata tidak menjadikan Masikah kerja dalam hal baik, melainkan dijadikan budak nafsu bagi lelaki yang memerlukan kesenangan. Dari situ Ibnu Salul meraih upah. Sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, Ibnu Salul sudah memaksa budak-budak wanita dari kaum Yahudi dan yang lain, termasuk Masikah. Untuk menampung mereka itu, Ibnu Salul membuka rumah yang di depannya dikibarkan bendera merah sebagai tanda pengenal. Secara sembunyi-sembunyi, Masikah kemudian mendekati wanita-wanita dari kaum Anshar dan dia bisa mendapatkan keterangan jelas tentang Islam. Dari ayat-ayat al-Qur`an yang didengar dari wanita-wanita Anshar itu akhirnya hati Masikah mendapat cahaya terang.

Di antara ayat al-Qur`an yang pernah didengar Masikah, adalah firman Allah surat Thaha [20] 1-8:

“Thaha, Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemanyam di atas arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al-Asmaaul Husna (nama-nama yang baik)”.

Seiring perjalanan waktu, Masikah pun semakin mengenal Islam. Ia tahu Islam itu adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah. Selain itu, Islam itu mendirikan solat, membayar zakat, menjalankan puasa bulan Ramadhan dan mengerjakan haji bagi siapa yang sanggup menunaikan perjalanan ke Baitullah. Tahu bahwa ia bergelumang dengan dosa maka Masikah bertanya tentang seseorang yang berbuat dosa. Ia mendapat jawaban, bahwa pintu-pintu harapan untuk bertobat kepada Allah itu senantiasa terbuka, sebagaimana bunyi firman Allah yang dia dengar,

“Katakanlah, ‘hai, hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

(QS. Az-Zumar [39]: 53).

Maka Masikah merasa sudah waktunya untuk bertaubat, lari dari jerutan dosa. Akhirnya, malam tiba, Masikah keluar dari rumah Ibnu Salul, sambil mengendap-endap. Sementara itu, budak-budak wanita lain sedang hanyut dalam buaian kesenangan. Dalam kegelapan itu, Masikah bisa keluar rumah dengan selamat. Tapi setelah Masikah keluar ia bingung.“Ke mana saya harus pergi?” Untung, ia teringat dengan wanita tua yang pernah membuat dia sempat mendengarkan al-Qur`an, mengenal Islam dan mendapatkan hidayah Allah. Masikah lantas berjalan ke rumah wanita tua tersebut, yang tinggal seorang diri. Wanita itu menerima MAsikah dengan tangan terbuka. Esok paginya, perempuan itu mengantar Masikah pergi ke masjid bagi menemui Rasulullah SAW.  Bersamaan ketika itu Abu Bakar keluar masjid, Masikah yang dihantar wanita itu tiba di masjid.  Abu Bakar berhenti, melihat wanita yang menderita luka. Sementara itu, wanita tua yang mengantar Masikah kemudian bercerita bahawa semua itu tidak lain akibat perbuatan Ibnu Salul yang telah memaksa Masikah untuk melacur.

Abu Bakar terus masuk ke masjid untuk menemui Rasulullah, dan bercerita apa yang dialami Masikah. Rasulullah diam sesaat, sebelum kemudian turun wahyu dari Allah kepada Rasulullah yang berbunyi,

“Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu”

(QS. An-Nuur [24]: 33).

Masikah tahu, ayat yang turun itu berkaitan dengan dirinya. Maka hati Masikah semakin teguh. Sementara berita tentang Masikah tersebar dan orang jadi tahu tentang maksud dan tindakan dari Abdullah bin Ubay bin Salul yang zalim itu.

Walking

Just check this out…… 
The Organs of your body have their sensory touches at the bottom of your foot, if you massage these points you will find relief from aches and pains as you can see the organs are on right and left foot, the heart is on the left foot. 

This time, it put organs on the feet as they are. Typically they are shown as points and arrows to show which organ it connects to. 
 
It is indeed correct since the nerves connected to these organs terminate here. 

 
This is covered in great details in Acupressure studies or textbooks.
 
 
Allah created our body so well that He thought of even this. He made us walk so that we will always be pressing these pressure points and thus keeping these organs activated at all times. 

 
So, keep walking…

Rasulullah SAW also like walking.

Menghadapi Kekecewaan Kehilangan yang Tersayang

Pernah kehilangan seseorang yang bererti dalam hidup kita?

Bagaimana menghadapinya?

“Cinta baru sempurna jika terasa menyayat, seperti segumpal tanah liat yang akan baru menjadi indah setelah dibentuk menjadi tembikar. Cinta menjadi abadi jika tak terjangkau. Ibarat bumi selalu mengintai matahari. Kerana tak mampu meraihnya, selamanya menjadi bayangan yang tak terengkuh. Ditinggalkan jauh lebih menyakitkan daripada diputuskan. Namun lebih menyakitkan lagi ketika kita tidak mengerti bahawa kadangkala Allah izinkan kita kehilangan seseorang untuk kebaikan kita sendiri. Kehilangan akan membuat kita merasa rapuh tapi disisi lain kehilangan dapat membuat kita tegar.”

Tetapi sesuatu yang hilang belum tentu meninggalkan kekosongan, kerana jejak-jejak yang ditinggalkannya tak pernah benar-benar hilang.

Maka, mari belajar untuk mencintai kehilangan itu, kerana ia adalah sebahagian proses semulajadi dari hidup. Kehilangan membuat banyak pelajaran dan pengalaman baru buat kita kita dapat menerima dengan baik proses itu, menerima diri kita sendiri.

Kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Kita sedar kita tak pernah memiliki apa-apa pun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan ketika kita kehilangan. Kemenangan hidup bukan bermakna kejayaan mendapat banyak, tetapi ada pada kemampuan menikmati apa yang didapat tanpa menguasai. Pelajaran dari beberapa kehilangan, bahawa dalam setiap kehilangan ada pembelajaran yang membuat jiwa makin dewasa. Atau mungkin menjadi sebuah proses lepasnya sebuah ego dalam diri. Di saat kehilangan, kita jadi meringkuk seperti bayi yang tak punya kuasa.

Menyedari bahawa sekuat apapun jiwa dan diri, setiap hidup tak pernah lepas dari kehilangan. Bahawa cerita di dunia ini bukan hanya celoteh kita, tapi ada celoteh lain yang harus didengarkan, dipenuhi dan dilalui.

Ingat sentiasa…ALLAH SENTIASA ADA UNTU KITA…ALLAH SAYANG KITA. Di waktu kita kecewa Dia sambut kita dengan cintaNYA.


Tenangkan hatimu rasakan cintaNYA renungkan kehidupan kita…apa yang selalu disediakan untuk kita tanpa kita perlu meminta

Doa di bawah mungkin boleh membantu.

Untuk menguatkan semula hati yang sakit dan kecewa rawatlah ia dengan lima perkara agar kita dapat merasa cintaNya.

Jom dengarkan bacaan ayat-ayat suci al-Quran sambil merenung maksudnya di http://www.listen2quran.com/.

Doa Tetap Iman

Doa adalah senjata orang Mukmin. sentiasalah berdoa

Diari doa Muslim

Doa tetap Iman

Petua Murah Rezeki

Assalamualaikum. Kisah di bawah mengingatkan wanhayati kisah masa kecil-kecil dulu. Ketika remaja lebih kurang dalam tingkatan 3, wanhayati turun dari bas selepas balik dari sekolah. Bas tu betul-betul berhenti depan rumah wanhayati. kebetulan masa tu mak ada kat depan rumah so dia nampakla wanhayati. dia tersenyum melihat wanhayati yang balik sekolah kepenatan. Mak menuju ke arah wanhayati dan wanhayati bersalam dengan mak. Mak cakap ” senyumlah sikit waktu turun bas”. Wanhayati menjawab ” kenapa pula nak senyum-senyum, nanti orang cakap apa senyum sorang-sorang”. Pandainyala wanhayati menjawab mulut mak waktu tu kan. sekarang bila dah makin besar dan dah baca kisah di bawah barulah wanhayati sedar yang wanhayati ni bodoh sebenarnya. Satunya bodoh sebab menjawab mulut mak, kedua bodoh sebab apa yang mak cakap tu Rasululah SAW dah suruh. Di sini wanhayati kongsi kisah yang wanhayati baca dari forward email yang wanhayati dapat pada 1 Jan 2006. Semoga Allah mengurniakan kebijaksanaan kepada kita semua. amin.

Abu Yazid Al Busthami, pelopor sufi, pada suatu hari pernah didatangi seorang lelaki yang wajahnya kusam dan  keningnya selalu berkerut.Dengan murung lelaki itu mengadu,”Tuan Guru, sepanjang hidupsaya, rasanya tak pernah lepas saya beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya masih bermunajat. Isteri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pemalas yang enggan mencari rezeki. Tetapi mengapa saya selalu malang dan kehidupan saya penuh kesulitan?”

Sang Guru menjawab sederhana, “Perbaiki penampilanmu dan rubahlah roman mukamu. Kau tahu, Rasulullah SAW adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rasulullah SAW, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya.” Lelaki itu tertunduk. Ia pun berjanji akan memperbaiki penampilannya. Mulai hari itu, wajahnya senantiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdullilah sesudah itu ia tak pernah datang lagi untuk berkeluh kesah. Keserasian selalu dijaga. Sikapnya ramah,wajahnya senantiasa mengulum senyum bersahabat. Roman mukanya berseri. Tidak hairan jika Imam Hasan Al Basri berpendapat, awal keberhasilan suatu pekerjaan adalah roman muka yang ramah dan penuh senyum. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan, senyum adalah sedekah paling murah tetapi paling besar pahalanya.

Demikian pula seorang suami atau seorang isteri. Alangkah celakanya rumah tangga jika suami isteri selalu berwajah tegang. Begitu juga celakanya persahabatan sekiranya dikalangan mereka saling tidak  erteguran. Sebab tak ada persoalan yang diselesaikan dengan mudah melalui kekeruhan dan ketegangan. Dalam hati yang tenang, pikiran yang dingin dan wajah cerah, Insya Allah, apapun persoalannya nescaya dapat diatasi. Inilah yang dinamakan keluarga sakinah, yang didalamnya penuh dengan cinta dan kasih sayang.

Empat Jenis Manusia Di Dunia…dimanakah kita?

Forward email yang wanhayati dapat dari sahabat pada 1 Jan 2006. Semoga kita sama-sama dapat merenung dimanakah golongan kita. Wallahhuawa’lam

(Petikan Kitab Futuuhul Ghaib oleh Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani.)

1. Mereka yang tidak ada lidah dan tidak ada hati.
2. Mereka yang ada lidah tetapi tidak ada hati.
3. Mereka mempunyai hati tetapi tidak ada lidah.
4. Mereka yang bijak ke dunia tidak nampak(Alam Ghaib)

Pertama ialah mereka yang tidak ada lidah dan tidak ada hati.

Mereka ini ialah orang-orang yang bertaraf biasa, berotak tumpul dan berjiwa kerdil yang tidak mengenang Allah dan tidak ada kebaikan pada mereka. Mereka ini ibarat melukut yang ringan, kecuali mereka dilimpahi dengan kasih sayang Allah dan membimbing hati mereka supaya beriman serta menggerakkan angota-anggota mereka supaya patuh kepada Allah.

 

Berhati-hatilah supaya kamu jangan termasuk dalam golongan mereka. Janganlah kamu layan mereka dan janganlah kamu bergaul dengan mereka. Merekalah orang-orang yang dimurkai Allah dan penghuni neraka. Kita minta dilindungi Allah dari pengaruh mereka. Sebaliknya kamu hendaklah cuba menjadikan diri kamu sebagai orang yang dilengkapi dengan

1. Ilmu Ketuhanan,

2. Guru kepada yang baik,

3. Pembimbing kepada agama Allah,

4. Penyampai dan pengajak kepada manusia kepada jalan Allah.

 

Berjaga-jagalah jika kamu hendak mempengaruhi mereka supaya mereka patuh kepada Allah dan beri amaran kepada mereka terhadap apa-apa yang memusuhi Allah. Jika kamu berjuang di jalan Allah untuk mengajak mereka menuju Allah, maka kamu akan jadi pejuang dan pahlawan di jalan Allah dan akan diberi ganjaran seperti yang diberi kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul.

Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda kepada Sayyidina Alli;

“Jika Allah membimbing seseorang melalui bimbingan kamu kepadaNya, maka itu terlebih baik kepada kamu dari apa-apa sahaja di mana matahari terbit”.

Kedua Satu jenis lagi manusia ialah mereka yang ada lidah tetapi tidak ada hati.

Mereka bijak bercakap tetapi tidak melakukan seperti yang dicakapkannya.

Mereka mengajak manusia menuju Allah tetepi mereka sendiri lari dari Allah. Mereka benci kepada maksiat yang dilakukan oleh orang lain, tetapi mereka sendiri bergelumbang dalam maksiat itu.

Mereka menunjuk kepada orang lain yang mereka itu Sholeh tetapi mereka sendiri melakukan dosa-dosa yang besar. Bila mereka bersendirian, mereka bertindak selaku harimau yang berpakaian.

Inilah orang yang dikatakan kepada Nabi SAW. dengan sabda;

“Yang paling aku takuti dan aku pun takut di kalangan umatku ialah orang ‘Alim yang jahat”.

Kita berlindung dengan Allah daripada orang ‘Alim seperti itu. Oleh itu, larilah dan jauhkan diri kamu dari orang-orang seperti itu. Jika tidak, kamu akan terpengaruh oleh kata-kata manis yang bijak berbicara itu dan apoi dosanya itu akan membakari kamu dan kekotoran hatinya akan membunuh kamu.

Ketiga Jenis yang ketiga ialah golongan orang yang mempunyai hati tetapi tidak ada lidah.

Dia adalah seorang yang beriman.

Allah telah mendindingkan mereka daripada makhluk dan menggantungkan di keliling mereka dengan tabirNya dan memberi mereka kesedaran tentang cacat cedera diri mereka. Allah menyinari hati mereka dan menyedarkan mereka tentang kejahatan yang timbul oleh kerana mencampuri urusan orang ramai dan kejahatan yang timbul oleh kerana mencampuri orang ramai dan kejahatan kerena bercakap banyak.

Mereka ini tahu bahawa keselamatan itu terletak dalam “DIAM” dan bekhalwat. Nabi SAW. pernah bersabda;

“Barangsiapa yang diam akan mencapai keselamatan”.

Sabda baginda lagi;

“Sesungguhnya berkhidmat kepada Allah itu terdiri dari sepuluh bahagian, sembilan darinya terletak dalam diam”.

Oleh itu mereka dalam golongan jenis ini adalah Wali Allah dalam rahsiaNya, dilindungi dan diberi keselamatan, bijaksana, rakan Allah dan diberkati dengan keredhoan dan segala yang baik akan diberikan kepada mereka.

Oleh itu, kamu hendaklah berkawan dengan mereka dan bergaul dengan orang-orang ini dan diberi pertolongan kepada mereka. Jika kamu berbuat demikian, kamu akan dikasihi Allah dan kamu akan dipilih dan dimasukkan dalam golongan mereka yang menjadi Wali Allh dan hamba-hambanya yang Sholeh.

Kemapat Jenis manusia yang keempat pula ialah mereka yang bijak ke dunia tidak nampak(Alam Ghaib), diberi pakaian kemuliaan seperti dalam sabda Nabi SAW;

‘Barangsiapa yang belajar dan mengamalkan pelajarannya dan mengajarkan orang yang lain, maka akan diajak ke dunia ghaib dan permuliakan”.

Orang dalam golongan ini mempunyai ilmu-ilmu Ketuhanan dan tanda-tanda Allah. Hati mereka menjadi gedung ilmu Allah yang amat berharga dan orang itu akan diberi Allah rahsia-rahsia yang tidak diberi kepada orang lain. Allah telah memilih mereka dan membawa mereka hampir hampir kepadaNya. Allah akan membimbing mereka dan membawa mereka ke sisiNya. Hati mereka akan dilapangkan untuk menerima rahsia-rahsia ini dan ilmu-ilmu yang tinggi. Allah jadikan mereka itu pelaku dan lakuanNya dan pengajak manusia kepada jalan Allah dan melarang membuat dosa dan maksiat. Jadilah mereka itu “Orang-orang Allah”. Mereka mendapat bimbingan yang benar dan yang mengesahkan kebenaran orang lain.

Mereka ibarat timbalan Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah. Mereka sentoasa mendapat taufiq dan hidayah dari Allah Yang Maha Agung. Orang yang dalam golongan ini adalah pada peringkat terakhir atau puncak kemanusian dan tidak ada Maqam di atas ini kecuali Kenabian.

Oleh itu hati-hatilah kamu supaya jangan memusuhi dan membantah orang-orang seperti ini dan dengarlah cakap atau nasihat mereka. Oleh itu, keselamatan terletak dalam apa yang dicakapkan oleh mereka dan dalam berdamping dengan mereka, kecuali mereka yang Allah beri kuasa dan pertolongan terhadap hak dan keampunanNya.

Jadi saya(Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani) telah bahagikan manusi itu kepada empat golongan. Sekarang terpulanglah kepada kamu untuk memeriksa diri kamu sendiri jika kamu mempunyai fikiran. Dan selamatkanlah diri kamu jika kamu ingin keselamatan. Mudah-mudahan Allah membimbing kita menuju kepada apa yang dikasihiNya dan diredhoiNya, dalam dunia ini dan di akhirat kelak.

 

Sedekah dan Doa dari Ibunya

Pada suatu malam bertepatan malam Jumaat Salih Al Mazi pergi ke masjid Jamik untuk mengerjakan solat subuh. Kebiasaannya ia berangkat awal sebelum masuk waktu subuh dan melalui sebuah pekuburan. Di situ Salih duduk sekejap. Sambil membaca apa-apa yang boleh mendatangkan pahala bagi ahli kubur. Memandangkan waktu subuh masih lambat lagi, tiba-tiba dia tertidur dan bermimpi melihat ahli-ahli kubur keluar beramai-ramai dari kubur masing-masing. Mereka duduk dalam kumpulan sambil berbual-bual sesama mereka.

Al Mazy ternampak seorang pemuda ahli kubur memakai baju kotor serta tidak berkumpul dengan ahli-ahli kubur yang lain. Dia duduk seorang diri di tepi kuburnya dengan wajah murung, gelisah dan sedih. Tidak berapa lama kemudian datang malaikat membawa beberapa talam yang ditutup dengan sapu tangan.

Seolah-olah seperti cahaya yang gemerlapan. Malaikat mendatangi para ahli kubur dengan membawa talam-talam itu, tiap seorang mengambil satu talam dan dibawanya masuk ke dalam kuburnya. Semua ahli kubur mendapat satu talam seorang sehingga tinggallah si pemuda yang kelihatan sedih itu seorang diri tidak mendapat apa-apa. Dengan perasaan yang sedih dan duka dia bangun dan masuk semula ke dalam kuburnya. Tapi sebelum dia masuk Al Mazy yang bermimpi segera menahannya untuk bertanyakan keadaannya.

“Wahai hamba Allah ! Aku lihat engkau terlalu sedih mengapa ?” tanya Salih Al Mazy.

“Wahai Salih, adakah engkau lihat talam-talam yang dibawa masuk oleh malaikat sebentar tadi?” tanya pemuda itu.

“Ya aku melihatnya. Tapi apa benda di dalam talam-talam itu ?” tanya Al Mazy lagi.

Si pemuda menerangkan bahwa talam-talam itu berisi hadiah orang-orang yang masih hidup untuk orang-orang yang sudah mati yang terdiri dari pahala sedekah, bacaan ayat-ayat suci Al Quran dan doa. Hadiah-hadiah itu selalunya datang setiap malam Jumaat atau pada hari Jumaat. Si pemuda kemudian menerangkan tentang dirinya dengan panjang lebar. Katanya, dia ada seorang ibu yang masih hidup di alam dunia bahkan telah berkahwin dengan suami baru.

Akibatnya dia lupa untuk bersedekah untuk anaknya yang sudah meninggal dunia sehingga tidak ada lagi orang yang mengingati si pemuda tersebut. Maka sedihlah si pemuda tersebut setiap malam dan hari jumaat apabila melihat orang-orang lain menerima hadiah sedangkan dia seorang tidak menerimanya. Al-Mazy sangat kasihan mendengarkan cerita si pemuda. lalu ia bertanya nama dan alamat ibunya agar dia dapat menyampaikan keadaan anaknya. Si pemuda menerangkan sifat2 ibunya. Kemudian Al Maizy terjaga.

Pada sebelah paginya Al Maizy terus pergi mencari alamat ibu pemuda tersebut. Setelah mencari ke sana ke mari beliau pun berjumpa ibu si pemuda tersebut lantas menceritakan perihal mimpinya. Ibunya menangis mendengar keterangan Al Maizy mengenai nasib anaknya yang merana di alam barzah.

Kemudian ia berkata :”Wahai Salih ! Memang betul dia adalah anakku. Dialah belahan hatiku, dia keluar dari dalam perutku. Dia membesar dengan minum susu dari dadaku dan ribaanku inilah tempat dia berbaring dan tidur ketika kecilnya.”

Al Maizy turut sedih melihat keadaan ibu yang meratap dan menangis penuh penyesalan kerna tidak ingat untuk mendoakan anaknya selama ini.

“Kalau begitu saya mohon minta diri dahulu.” kata Al Maizy lalu bangun meninggalkan wanita tersebut.

Tatkala dia cuba untuk melangkah si ibu menahannya agar jangan pulang dahulu. Dia masuk kedalam biliknya lalu keluar dengan membawa wang sebanyak seribu dirham.

“Wahai Salih, ambil wang ini dan sedekahkanlah untuk anakku, cahaya mataku. Insya Allah aku tidak akan melupakannya untuk berdoa dan bersedekah untukya selama aku masih hidup.”

Salih Al Maizy mengambil wang itu disedekahkannya kepada fakir miskin sehingga tidak sesenpun dari seribu dirham itu yang tinggal. Dilakukannya semua itu sebagai memenuhi amanah yang diberi kepadanya oleh ibu pemuda tersebut. Pada suatu malam Jumaat di belakang selepas itu, Al Maizy berangkat ke masjid Jamik untuk solat jamaah.

Dalam perjalanan sebagaimana biasa ia singgah di perkuburan. Di situlah ia terlena sekejap dan bermimpi melihat ahli-ahli kubur keluar dari kubur masing2. Si pemuda yang dulunya kelihatan sedih seorang diri kini keluar bersama-sama dengan memakai pakaian putih yang cantik serta mukanya kelihatan sangat gembira.

Pemuda tersebut mendekati Salih Al Maizy seraya berkata : “Wahai tuan Salih, aku ucapkan terima kasih kepadamu. Semoga Allah membalas kebaikanmu itu. ” “Hadiah dari ibuku telah ku terima pada hari jumaat.” katanya lagi.

“Eh, Engkau boleh mengetahui hari Jumaat ?” tanya Al Maizy. “Ya, Tahu.”

“Apa tandanya ?”

“Jika burung-burung di udara berkicau dan berkata “Selamat selamat pada Hari yang baik ini, yakni hari Jumaat.”

Salih Al Maizy terjaga dari tidurnya. Ia cuba mengingati mimpinya dan merasa gembira kerana si pemuda telah mendapat rahmat dari Allah disebabkan sedekah dan doa dari ibunya.

(Petikan kisah Wali-Wali Allah (2) terbitan syarikat Nurulhas). “Sebarkanlah ajaranku walau satu ayat pun” (Sabda Rasulullah SAW) Nescaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Surah Al-Ahzab:71)” “

Kisah Pramugari Koma di Tanah Suci

Kisah dibawah adalah kisah yang wanhayati dapat dari forward email pada Jan 2006.   Semoga kita sama-sama dapat mengambil iktibar.

Untuk renungan bersama ……

Selama hampir sembilan tahun menetap di Mekah dan membantu ayah saya menguruskan jemaah haji dan umrah, saya telah melalui pelbagai pengalaman menarik dan pelik. Bagaimanapun, dalam banyak-banyak peristiwa itu, ada satu kejadian yang pasti tidak akan saya lupakan sampai bila-bila. Ianya berlaku kepada seorang wanita yang berusia di pertengahan 30-an.Kejadian itu berlaku pada pertengahan 1980-an semasa saya menguruskan satu rombongan haji. Ketika itu umur saya 20 tahun dan masih menuntut di Universiti Al-Azhar, Kaherah. Kebetulan ketika itu saya balik ke Mekah sekejap untuk menghabiskan cuti semester. Saya menetap di Mekah mulai 1981 selepas menamatkan pengajian di Sekolah Agama Gunung Semanggol, Perak. Keluarga saya memang semuanya di Mekah, cuma saya seorang saja tinggal dengan nenek saya di Perak. Walaupun masih muda, saya ditugaskan oleh bapa saya, Haji Nasron untuk menguruskan jemaah haji dan umrah memandangkan saya adalah anak sulung dalam keluarga. Berbalik kepada cerita tadi, ketibaan wanita tersebut dan rombongan haji di Lapangan Terbang Jeddah kami sambut dengan sebuah bas. Semuanya nampak riang sebab itulah kali pertama mereka mengerjakan haji. Sebaik sampai, saya membawa mereka menaiki bas dan dari situ, kami menuju ke Madinah. Alhamdulillah, segalanya berjalan lancar hinggalah kami sampai di Madinah. Tiba di Madinah, semua orang turun dari bas berkenaan. Turunlah mereka seorang demi seorang sehingga tiba kepada giliran wanita terbabit. Tapi tanpa apa-apa sebab, sebaik sahaja kakinya mencecahkan bumi Madinah, tiba-tiba wanita itu tumbang tidak sedarkan diri. Sebagai orang yang dipertanggungjawabkan mengurus jemaah itu, saya pun bergegas menuju ke arah wanita berkenaan. “Kakak ni sakit,” kata saya pada jemaah-jemaah yang lain. Suasana yang tadinya tenang serta merta bertukar menjadi cemas. Semua jemaah nampak panik dengan apa yang sedang berlaku. “Badan dia panas dan menggigil. Kakak ni tak sedarkan diri, cepat tolong saya…kita bawa dia ke hospital,” kata saya. Tanpa membuang masa, kami mengangkat wanita tersebut dan membawanya ke hospital Madinah yang terletak tidak jauh dari situ. sementara itu, jemaah yang lain dihantar ke tempat penginapan masing-masing. Sampai di hospital Madinah, wanita itu masih belum sedarkan diri. Berbagai-bagai usaha dilakukan oleh doktor untuk memulihkannya, namun semuanya gagal. Sehinggalah ke petang, wanita itu masih lagi koma. Sementara itu, tugas mengendalikan jemaah perlu saya teruskan. Saya terpaksa meninggalkan wanita tersebut terlantar dihospital berkenaan. Namun dalam kesibukan menguruskan jemaah, saya menghubungi hospital Madinah untuk mengetahui perkembangan wanita tersebut. Bagaimanapun, saya diberitahu dia masih tidak sedarkan diri. Selepas dua hari, wanita itu masih juga tidak sedarkan diri. Saya makin cemas, maklumlah, itu adalah pengalaman pertama saya berhadapan dengan situasi seperti itu. Memandangkan usaha untuk memulihkannya semuanya gagal, maka wanita itu dihantar ke Hospital Abdul Aziz Jeddah untuk mendapatkan rawatan lanjut sebab pada masa itu hospital di Jeddah lebih lengkap kemudahannya berbanding hospital madinah. Namun usaha untuk memulihkannya masih tidak berhasil. Jadual haji mesti diteruskan. Kami bertolak pula ke Mekah untuk mengerjakan ibadat haji. Selesai haji, sekali lagi saya pergi ke Jeddah. Malangnya, bila sampai di Hospital King Abdul Aziz, saya diberitahu oleh doktor bahawa wanita tersebut masih koma. Bagaimanapun, kata doktor, keadaannya stabil. Melihat keadaannya itu, saya ambil keputusan untuk menunggunya di hospital. Selepas dua hari menunggu, akhirnya wanita itu membuka matanya. Dari sudut matanya yang terbuka sedikit itu, dia memandang ke arah saya. Tapi sebaik saja terpandang wajah saya, wanita tersebut terus memeluk saya dengan erat sambil menangis teresak- esak. Sudah tentu saya terkejut sebab saya ni bukan muhrimnya. Tambahan pula kenapa saja dia tiba-tiba menangis?? Saya bertanya kepada wanita tersebut, “Kenapa kakak menangis?” “Mazlan.. kakak taubat dah Lan. Kakak menyesal, kakak takkan buat lagi benda-benda yang tak baik. Kakak bertaubat, betul-betul taubat.” “Kenapa pulak ni kak tiba-tiba saja nak bertaubat?” tanya saya masih terpinga-pinga. Wanita itu terus menangis teresak-esak tanpa menjawab pertanyaan saya itu. Seketika kemudian dia bersuara, menceritakan kepada saya mengapa dia berkelakuan demikian, cerita yang bagi saya perlu diambil iktibar oleh kita semua. Katanya, “Mazlan, kakak ni sudah berumah tangga, kahwin dengan lelaki orang putih. Tapi kakak silap. Kakak ini cuma Islam pada nama dan keturunan saja. Ibadat satu apa pun kakak tak buat. Kakak tak sembahyang, tak puasa, semua amalan ibadat kakak dan suami kakak tak buat. Rumah kakak penuh dengan botol arak. Suami kakak tu kakak sepak terajang, kakak pukul-pukul saja,” katanya tersedu-sedan. “Habis yang kakak pergi haji ini?” “Yalah…kakak tengok orang lain pergi haji, kakak pun teringin juga nak pergi.” “Jadi apa sebab yang kakak menangis sampai macam ni sekali. Ada sesuatu ke yang kakak alami semasa akit?” tanya saya lagi. Dengan suara tersekat-sekat, wanita itu menceritakan, “Mazlan…Allah itu maha besar, maha agung, maha kaya. Semasa koma tu, kakak telah diazab dengan seksaan yang benar-benar pedih atas segala kesilapan yang telah kakak buat selama ini. “Betul ke kak?” tanya saya, terkejut. “Betul mazlan. Semasa koma itu kakak telah ditunjukkan oleh Allah tentang balasan yang Allah beri kepada kakak. Balasan azab Lan, bukan balasan syurga. Kakak rasa seperti diazab di neraka. Kakak ni seumur hidup tak pernah pakai tudung. Sebagai balasan, rambut kakak di tarik dengan bara api. Sakitnya tak boleh nak kakak ceritakan macam mana pedihnya. Menjerit-jerit kakak minta ampun minta maaf kepada Allah.” “Bukan itu saja, buah dada kakak pula diikat dan disepit dengan penyepit yang dibuat daripada bara api, kemudian ditarik ke sana-sini…putus, jatuh ke dalam api neraka. buah dada kakak rentung terbakar, panasnya bukan main. Kakak menjerit, menangis kesakitan. Kakak masukkan tangan ke dalam api itu dan kakak ambil buah dada tu balik.” tanpa mempedulikan pesakit lain dan jururawat memerhatikannya wanita itu terus bercerita. Menurutnya lagi, setiap hari dia diseksa, tanpa henti, 24 jam sehari. Dia tidak diberi peluang langsung untuk berehat atau dilepaskan daripada hukuman sepanjang masa koma itu dilaluinya dengan azab yang amat pedih. Dengan suara tersekat-sekat, dengan air mata yang makin banyak bercucuran, wanita itu meneruskan ceritanya, “Hari-hari kakak diseksa. Bila rambut kakak ditarik dengan bara api, sakitnya terasa seperti nak tercabut kulit kepala.iekah untuk mengerjakan ibada Panasnya pula menyebabkan otak kakak terasa seperti menggelegak. Azab itu cukup pedih…pedih yang amat sangat…tak boleh nak diceritakan.” sambil bercerita, wanita itu terus meraung, menangis teresak-esak. Nyata dia betul-betul menyesal dengan kesilapannya dahulu. Saya pula terpegun, kaget dan menggigil mendengar ceritanya. Begitu sekali balasan Allah kepada umatnya yang ingkar. “Mazlan…kakak ni nama saja Islam, tapi kakak minum arak, kakak main judi dan segala macam dosa besar. Kerana kakak suka makan dan minum apa yang diharamkan Allah, semasa tidak sedarkan diri itu kakak telah diberi makan buah-buahan yang berduri tajam. Tak ada isi pada buah itu melainkan duri-duri saja. tapi kakak perlu makan buah-buah itu sebab kakak betul-betul lapar. “Bila ditelan saja buah-buah itu, duri-durinya menikam kerongkong kakak dan bila sampai ke perut, ia menikam pula perut kakak. Sedangkan jari yang tercucuk jarum pun terasa sakitnya, inikan pula duri-duri besar menyucuk kerongkong dan perut kita. Habis saja buah-buah itu kakak makan, kakak diberi pula makan bara-bara api. Bila kakak masukkan saja bara api itu ke dalam mulut, seluruh badan kakak rasa seperti terbakar hangus. Panasnya cuma Allah saja yang tahu. Api yang ada di dunia ini tidak akan sama dengan kepanasannya. Selepas habis bara api, kakak minta minuman, tapi…kakak dihidangkan pula dengan minuman yang dibuat dari nanah. Baunya cukup busuk. Tapi kakak terpaksa minum sebab kakak sangat dahaga. Semua terpaksa kakak lalui…azabnya tak pernah rasa, tak pernah kakak alami sepanjang kakak hidup di dunia ini.” Saya terus mendengar cerita wanita itu dengan tekun. Terasa sungguh kebesaran Allah. “Masa diazab itu, kakak merayu mohon kepada Allah supaya berilah kakak nyawa sekali lagi, berilah kakak peluang untuk hidup sekali lagi. Tak berhenti-henti kakak memohon. Kakak kata kakak akan buktikan bahawa kakak tak akan ulangi lagi kesilapan dahulu. Kakak berjanji tak akan ingkar perintah allah akan jadi umat yg soleh. Kakak berjanji kalau kakak dihidupkan semula, kakak akan tampung segala kekurangan dan kesilapan kakak dahulu, kakak akan mengaji, akan sembahyang, akan puasa yang selama ini kakak tinggalkan.” Saya termenung mendengar cerita wanita itu. benarlah, Allah itu maha agung dan maha berkuasa. kita manusia ini tak akan terlepas daripada balasannya. Kalau baik amalan kita maka baiklah balasan yang akan kita terima, kalau buruk amalan kita, maka azablah kita di akhirat kelak. Alhamdulillah, wanita itu telah menyaksikan sendiri kebenaran Allah. “Ini bukan mimpi Mazlan. Kalau mimpi azabnya takkan sampai pedih macam tu sekali. Kakak bertaubat Mazlan, kakak tak akan ulangi lagi kesilapan kakak dahulu. Kakak bertaubat…kakak taubat nasuha,” katanya sambil menangis-nangis. Sejak itu wanita berkenaan benar-benar berubah. Bila saya membawanya ke Mekah, dia menjadi jemaah yang paling warak. Amal ibadahnya tak henti-henti. contohnya, kalau wanita itu pergi ke masjid pada waktu maghrib, dia cuma akan balik ke bilik- nya semula selepas sembahyang subuh. “Kakak…yang kakak sembahyang teruk-teruk ni kenapa. Kakak kena jaga juga kesihatan diri kakak. lepas sembahyang Isyak tu kakak baliklah, makan nasi ke, berehat ke…” tegur saya. “Tak apalah Mazlan. Kakak ada bawa buah kurma. Bolehlah kakak makan semasa kakak lapar.” menurut wanita itu, sepanjang berada di dalam masjidil Haram, dia mengqadakan semula sembahyang yang ditinggalkannya dahulu. Selain itu dia berdoa, mohon kepada Allah supaya mengampunkan dosanya. Saya kasihan melihatkan keadaan wanita itu, takut kerana ibadah dan tekanan perasaan yang keterlaluan dia akan jatuh sakit pula. Jadi saya menasihatkan supaya tidak beribadat keterlaluan hingga mengabaikan kesihatannya. “Tak boleh Mazlan. Kakak takut…kakak dah merasai pedihnya azab tuhan. Mazlan tak rasa, Mazlan tak tau. Kalau Mazlan dah merasai azab itu, Mazlan juga akan jadi macam kakak. Kakak betul- betul bertaubat.” Wanita itu juga berpesan kepada saya, katanya, “Mazlan, kalau ada perempuan Islam yang tak pakai tudung, Mazlan ingatkanlah pada mereka, pakailah tudung. Cukuplah kakak seorang saja yang merasai seksaan itu, kakak tak mau wanita lain pula jadi macam kakak. Semasa diazab, kakak tengok undang-undang yang Allah beri ialah setiap sehelai rambut wanita Islam yang sengaja diperlihatkan kepada orang lelaki yang bukan muhrimnya, maka dia diberikan satu dosa. Kalau 10 orang lelaki bukan muhrim tengok sehelai rambut kakakini, bermakna kakak mendapat 10 dosa.” “Tapi Mazlan, rambut kakak ini banyak jumlahnya, beribu-ribu. Kalau seorang tengok rambut kakak, ini bermakna beribu-ribu dosa yang kakak dapat. Kalau 10 orang tengok, macam mana? Kalau 100 orang tengok? Itu sehari, kalau hari-hari kita tak pakai tudung macam kakak ni??? Allah…Kakak berazam, balik saja dari haji ini, kakak akan minta tolong dari ustaz supaya ajar suami akak sembahyang, puasa, mengaji, buat ibadat. Kakak nak ajak suami pergi haji. Seperti mana kakak, suami kakak tu Islam pada nama saja. Tapi itu semua kesilapan kakak. Kakak sudah bawa dia masuk Islam, tapi kakak tak bimbing dia. Bukan itu saja, kakak pula yang jadi seperti orang bukan Islam.” Sejak balik dari haji itu, saya tak dengar lagi apa-apa cerita tentang wanita tersebut. Bagaimanapun, saya percaya dia sudah menjadi wanita yang benar-benar solehah. Adakah dia berbohong kepada saya tentang ceritanya diazab semasa koma? Tidak. Saya percaya dia bercakap benar. Jika dia berbohong, kenapa dia berubah dan bertaubat nasuha? Satu lagi, cubalah bandingkan azab yang diterimanya itu dengan azab yang digambarkan oleh Allah dan Nabi dalam Al-Quran dan hadis. Adakah ia bercanggah? Benar, apa yang berlaku itu memang kita tidak dapat membuktikannya secara saintifik, tapi bukankah soal dosa dan pahala, syurga dan neraka itu perkara ghaib? Janganlah bila kita sudah meninggal dunia, bila kita sudah diazab barulah kita mahu percaya bahawa “Oh… memang betul apa yang Allah dan Rasul katakan. Aku menyesal…” itu dah terlambat.