Category Archives: hidayah

Taubat Seorang Pelacur menjadi sebab turun Ayat 33 Surah Annuur

Hari itu, Abdullah bin Ubay bin Salul –tokoh kaum munafik– sedang istirahat, melepas penat dan lelah. Tetapi istirahat Ibnu Salul harus terusik kerana penjaga rumah tiba-tiba mengetuk pintu. Ibnu Salul terpaksa bangun dan melihat penjaga bermuka sedih di depannya. Di tangan penjaga itu ada segenggam wang. Wang itu ternyata hasil kerja pegawainya, tapi Ibnu Salul gusar sebab wang itu jumlahnya tak seperti yang diharapkan. “Sesungguhnya, wang sebesar ini adalah hasil kerja setengah hari bukan hasil kerja sehari penuh…” ujar Ibnu Salul berang. Tak ingin dituduh menggelapkan wang maka penjaga rumah itu lantas mencelah, “Tahukah tuan, kenapa penghasilan tuan sekarang ini menurun?” “Ya, aku tahu! Semua ini gara-gara Muhammad telah merampas mahkotaku. Ia menjadikan orang-orang menjauh dari budak-budak wanitaku lantaran mereka terpengaruh ajaran-ajaran yang diserukan oleh Muhammad.” Bersamaan itu, Ibnu Salul mendengarkan suara orang memanggil namanya. Ia kemudian menyuruh penjaga rumahnya untuk melihat siapa yang datang dan penjaga rumah cepat-cepat keluar. Sekeluar dari kamar, penjaga rumah mendapati beberapa orang dari Bani Tamim yang berkunjung ke Madinah. Penjaga rumah sudah mengenal mereka, yang tidak lain adalah para pembesar dari Bani Tamim yang selalu menginap beberapa hari di tempat Ibnu Salul untuk bersenang-senang setiap kali mereka kembali dari berdagang atau perjalanan dari Syam.

“Di manakah tuanmu, Ibnu Salul?” tanya salah seorang dari mereka. “Ada di dalam…” jawab penjaga rumah Tidak ada rasa canggung, para pembesar Bani Tamim itu kemudian masuk. Ibnu Salul cepat-cepat menyembunyikan wang di kamar, lantas segera keluar untuk menemui mereka. Ibnu Salul menyambut dengan hormat dan mereka pun membalas.

“Manakah wanita yang dulu pernah Anda kirimkan untuk kami?”  tanya seorang lelaki di antara para pembesar Bani Tamim itu. “Wanita yang mana, ya? Mereka itu banyak….,” jawab Ibnu Salul. “Budak wanita Anda yang paling cantik!” “Apakah dia itu Masikah?” tanya Ibnu Salul. “Ya, dia! Tidak salah lagi… ” jawab seorang laki-laki, dengan girang. “Nanti akan kami kirim dia untuk kalian semua bersama yang lainnya jika mereka mau…” “Segeralah, wahai Abul Hubab, segeralah… Nanti kami akan memberinya wang sebagai upah kepadanya.” Tak sabar ingin cepat mendapat upah, Ibnu Salul pun menyuruh penjaga rumah untuk memanggil Masikah serta budak-budak wanita yang lain. Tetapi penjaga rumah menukas, “Masikah tidak mau lagi melakukan hal itu, Tuan.” “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” ujar Ibnu Salul gusar. “Hal ini terjadi sejak hari ini, Tuanku. Ia telah meluruskan pikirannya…”

Ibnu Salul pun bangkit, pergi ke kamar Masikah dan mendorong pintu dengan kakinya. Tetapi betapa terkejutnya Ibnu Salul, saat ia melongok ke kamar ternyata mendapati Masikah, budak wanita yang ia miliki sedang menunaikan shalat. Ibnu Salul tercekat, melihat perubahan yang terjadi pada Masikah. Maka tanpa banyak berkata, Ibnu Salul mendekat dan mendera Masikah dengan kasar. “Celaka kamu! Muhammad rupanya telah mempengaruhimu!” “Tidak,” jawab Masikah setengah terkejutt “Justeru Beliau telah menunjukkan jalan terang padaku tentang kebenaran…” Jawaban Masikah seketika membuat Ibnu Salul murka. Dia kembali mendera Masikah, menyepak budak itu dengan kakinya. Masikah pun terluka. Lantas Ibnu Salul keluar, seraya memendam geram dan kecewa. Penjaga yang melihat itu berujar, “Biar aku bicara padanya, Tuan, agar ia bisa kembali seperti sediakala.”

Penjaga rumah Ibnu Salul itu memasuki kamar Masikah bersama seorang wanita. Tatkala dia melihat keadaan Masikah yang terluka, ia ikut hiba. Wanita yang ikut bersama penjaga rumah, kemudian menyuruh membalut luka yang diderita Masikah dan mengambilkan buah. Penjaga rumah itu kemudian bertanya tentang apa yang diperbuat Ibnu Salul setelah dia didatangi tamu dari Bani Tamim yang ternyata menaruh minat terhadap Masikah. Setelah itu, penjaga rumah menjelaskan bahwa orang-orang dari Bani Tamim yang menghendaki Masikah itu akan memberikan harta sebagai tebusan bagi anaknya kelak jika Masikah melahirkan. “Demi Allah, aku tak akan mendurhakai Allah lagi meskipun tubuhku dipotong-potong!” tegas Masikah.

Masikah sudah lama menjadi budak wanita Ibnu Salul. Tetapi, Ibnu Salul ternyata tidak menjadikan Masikah kerja dalam hal baik, melainkan dijadikan budak nafsu bagi lelaki yang memerlukan kesenangan. Dari situ Ibnu Salul meraih upah. Sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, Ibnu Salul sudah memaksa budak-budak wanita dari kaum Yahudi dan yang lain, termasuk Masikah. Untuk menampung mereka itu, Ibnu Salul membuka rumah yang di depannya dikibarkan bendera merah sebagai tanda pengenal. Secara sembunyi-sembunyi, Masikah kemudian mendekati wanita-wanita dari kaum Anshar dan dia bisa mendapatkan keterangan jelas tentang Islam. Dari ayat-ayat al-Qur`an yang didengar dari wanita-wanita Anshar itu akhirnya hati Masikah mendapat cahaya terang.

Di antara ayat al-Qur`an yang pernah didengar Masikah, adalah firman Allah surat Thaha [20] 1-8:

“Thaha, Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemanyam di atas arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al-Asmaaul Husna (nama-nama yang baik)”.

Seiring perjalanan waktu, Masikah pun semakin mengenal Islam. Ia tahu Islam itu adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah. Selain itu, Islam itu mendirikan solat, membayar zakat, menjalankan puasa bulan Ramadhan dan mengerjakan haji bagi siapa yang sanggup menunaikan perjalanan ke Baitullah. Tahu bahwa ia bergelumang dengan dosa maka Masikah bertanya tentang seseorang yang berbuat dosa. Ia mendapat jawaban, bahwa pintu-pintu harapan untuk bertobat kepada Allah itu senantiasa terbuka, sebagaimana bunyi firman Allah yang dia dengar,

“Katakanlah, ‘hai, hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

(QS. Az-Zumar [39]: 53).

Maka Masikah merasa sudah waktunya untuk bertaubat, lari dari jerutan dosa. Akhirnya, malam tiba, Masikah keluar dari rumah Ibnu Salul, sambil mengendap-endap. Sementara itu, budak-budak wanita lain sedang hanyut dalam buaian kesenangan. Dalam kegelapan itu, Masikah bisa keluar rumah dengan selamat. Tapi setelah Masikah keluar ia bingung.“Ke mana saya harus pergi?” Untung, ia teringat dengan wanita tua yang pernah membuat dia sempat mendengarkan al-Qur`an, mengenal Islam dan mendapatkan hidayah Allah. Masikah lantas berjalan ke rumah wanita tua tersebut, yang tinggal seorang diri. Wanita itu menerima MAsikah dengan tangan terbuka. Esok paginya, perempuan itu mengantar Masikah pergi ke masjid bagi menemui Rasulullah SAW.  Bersamaan ketika itu Abu Bakar keluar masjid, Masikah yang dihantar wanita itu tiba di masjid.  Abu Bakar berhenti, melihat wanita yang menderita luka. Sementara itu, wanita tua yang mengantar Masikah kemudian bercerita bahawa semua itu tidak lain akibat perbuatan Ibnu Salul yang telah memaksa Masikah untuk melacur.

Abu Bakar terus masuk ke masjid untuk menemui Rasulullah, dan bercerita apa yang dialami Masikah. Rasulullah diam sesaat, sebelum kemudian turun wahyu dari Allah kepada Rasulullah yang berbunyi,

“Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu”

(QS. An-Nuur [24]: 33).

Masikah tahu, ayat yang turun itu berkaitan dengan dirinya. Maka hati Masikah semakin teguh. Sementara berita tentang Masikah tersebar dan orang jadi tahu tentang maksud dan tindakan dari Abdullah bin Ubay bin Salul yang zalim itu.

Advertisements

Sedekah dan Doa dari Ibunya

Pada suatu malam bertepatan malam Jumaat Salih Al Mazi pergi ke masjid Jamik untuk mengerjakan solat subuh. Kebiasaannya ia berangkat awal sebelum masuk waktu subuh dan melalui sebuah pekuburan. Di situ Salih duduk sekejap. Sambil membaca apa-apa yang boleh mendatangkan pahala bagi ahli kubur. Memandangkan waktu subuh masih lambat lagi, tiba-tiba dia tertidur dan bermimpi melihat ahli-ahli kubur keluar beramai-ramai dari kubur masing-masing. Mereka duduk dalam kumpulan sambil berbual-bual sesama mereka.

Al Mazy ternampak seorang pemuda ahli kubur memakai baju kotor serta tidak berkumpul dengan ahli-ahli kubur yang lain. Dia duduk seorang diri di tepi kuburnya dengan wajah murung, gelisah dan sedih. Tidak berapa lama kemudian datang malaikat membawa beberapa talam yang ditutup dengan sapu tangan.

Seolah-olah seperti cahaya yang gemerlapan. Malaikat mendatangi para ahli kubur dengan membawa talam-talam itu, tiap seorang mengambil satu talam dan dibawanya masuk ke dalam kuburnya. Semua ahli kubur mendapat satu talam seorang sehingga tinggallah si pemuda yang kelihatan sedih itu seorang diri tidak mendapat apa-apa. Dengan perasaan yang sedih dan duka dia bangun dan masuk semula ke dalam kuburnya. Tapi sebelum dia masuk Al Mazy yang bermimpi segera menahannya untuk bertanyakan keadaannya.

“Wahai hamba Allah ! Aku lihat engkau terlalu sedih mengapa ?” tanya Salih Al Mazy.

“Wahai Salih, adakah engkau lihat talam-talam yang dibawa masuk oleh malaikat sebentar tadi?” tanya pemuda itu.

“Ya aku melihatnya. Tapi apa benda di dalam talam-talam itu ?” tanya Al Mazy lagi.

Si pemuda menerangkan bahwa talam-talam itu berisi hadiah orang-orang yang masih hidup untuk orang-orang yang sudah mati yang terdiri dari pahala sedekah, bacaan ayat-ayat suci Al Quran dan doa. Hadiah-hadiah itu selalunya datang setiap malam Jumaat atau pada hari Jumaat. Si pemuda kemudian menerangkan tentang dirinya dengan panjang lebar. Katanya, dia ada seorang ibu yang masih hidup di alam dunia bahkan telah berkahwin dengan suami baru.

Akibatnya dia lupa untuk bersedekah untuk anaknya yang sudah meninggal dunia sehingga tidak ada lagi orang yang mengingati si pemuda tersebut. Maka sedihlah si pemuda tersebut setiap malam dan hari jumaat apabila melihat orang-orang lain menerima hadiah sedangkan dia seorang tidak menerimanya. Al-Mazy sangat kasihan mendengarkan cerita si pemuda. lalu ia bertanya nama dan alamat ibunya agar dia dapat menyampaikan keadaan anaknya. Si pemuda menerangkan sifat2 ibunya. Kemudian Al Maizy terjaga.

Pada sebelah paginya Al Maizy terus pergi mencari alamat ibu pemuda tersebut. Setelah mencari ke sana ke mari beliau pun berjumpa ibu si pemuda tersebut lantas menceritakan perihal mimpinya. Ibunya menangis mendengar keterangan Al Maizy mengenai nasib anaknya yang merana di alam barzah.

Kemudian ia berkata :”Wahai Salih ! Memang betul dia adalah anakku. Dialah belahan hatiku, dia keluar dari dalam perutku. Dia membesar dengan minum susu dari dadaku dan ribaanku inilah tempat dia berbaring dan tidur ketika kecilnya.”

Al Maizy turut sedih melihat keadaan ibu yang meratap dan menangis penuh penyesalan kerna tidak ingat untuk mendoakan anaknya selama ini.

“Kalau begitu saya mohon minta diri dahulu.” kata Al Maizy lalu bangun meninggalkan wanita tersebut.

Tatkala dia cuba untuk melangkah si ibu menahannya agar jangan pulang dahulu. Dia masuk kedalam biliknya lalu keluar dengan membawa wang sebanyak seribu dirham.

“Wahai Salih, ambil wang ini dan sedekahkanlah untuk anakku, cahaya mataku. Insya Allah aku tidak akan melupakannya untuk berdoa dan bersedekah untukya selama aku masih hidup.”

Salih Al Maizy mengambil wang itu disedekahkannya kepada fakir miskin sehingga tidak sesenpun dari seribu dirham itu yang tinggal. Dilakukannya semua itu sebagai memenuhi amanah yang diberi kepadanya oleh ibu pemuda tersebut. Pada suatu malam Jumaat di belakang selepas itu, Al Maizy berangkat ke masjid Jamik untuk solat jamaah.

Dalam perjalanan sebagaimana biasa ia singgah di perkuburan. Di situlah ia terlena sekejap dan bermimpi melihat ahli-ahli kubur keluar dari kubur masing2. Si pemuda yang dulunya kelihatan sedih seorang diri kini keluar bersama-sama dengan memakai pakaian putih yang cantik serta mukanya kelihatan sangat gembira.

Pemuda tersebut mendekati Salih Al Maizy seraya berkata : “Wahai tuan Salih, aku ucapkan terima kasih kepadamu. Semoga Allah membalas kebaikanmu itu. ” “Hadiah dari ibuku telah ku terima pada hari jumaat.” katanya lagi.

“Eh, Engkau boleh mengetahui hari Jumaat ?” tanya Al Maizy. “Ya, Tahu.”

“Apa tandanya ?”

“Jika burung-burung di udara berkicau dan berkata “Selamat selamat pada Hari yang baik ini, yakni hari Jumaat.”

Salih Al Maizy terjaga dari tidurnya. Ia cuba mengingati mimpinya dan merasa gembira kerana si pemuda telah mendapat rahmat dari Allah disebabkan sedekah dan doa dari ibunya.

(Petikan kisah Wali-Wali Allah (2) terbitan syarikat Nurulhas). “Sebarkanlah ajaranku walau satu ayat pun” (Sabda Rasulullah SAW) Nescaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Surah Al-Ahzab:71)” “

Nasihat Sheikh Abdul Kadir Jailani

Berikut adalah tips dari Syeikh Abdulkadir Al Jailani untuk sentiasa bersangka baik sesama insan.

Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahawa dia lebih baik darimu.
Ucapkan dalam hatimu : “Mungkin kedudukannya di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku”.

Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah (dalam hatimu) : “Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepadaNya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku”..

Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah (dalam hatimu): “Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.”

Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah (dalam hatimu): “Orang ini memperoleh kurnia yang tidak akan kuperolehi, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”

Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah (dalam hatimu) : “Orang ini bermaksiat kepada Allah kerana dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepadaNya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku.”

Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah (dalam hatimu) : “Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, mungkin di akhir usianya dia memeluk Islam dan beramal soleh. Dan mungkin boleh jadi di akhir usia diriku kufur dan berbuat buruk.

Rahsia solat awal waktu

 

 Assalamualaikum… sekarang ni saya sorang-sorang kat ofis, yang lain entah ke mana. Tak tahu pa nak buat baca berita, main game, surf internet-nak cari buku rahsia solat. pastu jumpa artikel ni dari blog en. kamal, ingat nak kongsi dengan rakan semua (harap en. kamal tak kisah saya pinjam artikel dia kat sini ^_~). bagus artikel ni kerana ia memotivasikan diri untuk solat pada awal waktu. rupa-rupanya ada rahsia yang tersembunyi.
Dah lama sebenarnya nak tulis pasal topik ni dan apabila terbaca laporan berita dalam Utusan hari ini bertajuk “PM mahu kajian kesan solat diteruskan” aku berasa terpanggil untuk berkongsi sedikit pengetahuan yang aku dapat daripada Color Vibration Therapy. Antara kandungan laporan itu ialah:-

 

Quote:

Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi hari ini memuji projek kajian Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan Universiti Malaya (UM) mengenai kesan solat ke atas tubuh badan dan kesihatan seseorang. 

Perdana Menteri berkata, keputusan awalnya mendapati bahawa pergerakan yang dilakukan di dalam ibadat sembahyang yang memberikan kesan bermanfaat ke atas jantung, tulang belakang dan keupayaan ingatan serta perhatian seseorang.

 

Aku cuba cari laporan tersebut dekat Internet, kalau-kalau ada maklumat lebih terperinci pasal kajian tersebut tapi tak dapat. Walaubagaimana pun, CVT sebenarnya telah lama menemui perkaitan antara waktu solat dengan peralihan tenaga alam. Setiap peralihan waktu solat sebenarnya menunjukkan perubahan tenaga alam ini yang boleh diukur dan dicerap melalui perubahan warna alam. Aku rasa fenomena perubahan warna alam adalah sesuatu yang tidak asing bagi mereka yang terlibat dalam bidang fotografi, betul tak aid ?

Sebagai contoh, pada waktu Subuh alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersamaan dengan frekuensi tiroid yang mempengaruhi sistem metabolisma tubuh. Jadi warna biru muda atau waktu Subuh mempunyai rahsia berkaitan dengan penawar/rezeki dan komunikasi. Mereka yang kerap tertinggal waktu Subuhnya ataupun terlewat secara berulang-ulang kali, lama kelamaan akan menghadapi masalah komunikasi dan rezeki. Ini kerana tenaga alam iaitu biru muda tidak dapat diserap oleh tiroid yang mesti berlaku dalam keadaan roh dan jasad bercantum (keserentakan ruang dan masa) – dalam erti kata lain jaga daripada tidur. Disini juga dapat kita cungkil akan rahsia diperintahkan solat diawal waktu. Bermulanya saja azan Subuh, tenaga alam pada waktu itu berada pada tahap optimum. Tenaga inilah yang akan diserap oleh tubuh melalui konsep resonan pada waktu rukuk dan sujud. Jadi mereka yang terlewat Subuhnya sebenar sudah mendapat tenaga yang tidak optimum lagi.

Warna alam seterusnya berubah ke warna hijau (isyraq & dhuha) dan kemudian warna kuning menandakan masuknya waktu Zohor. Spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi perut dan hati yang berkaitan dengan sistem penghadaman. Warna kuning ini mempunyai rahsia yang berkaitan dengan keceriaan. Jadi mereka yang selalu ketinggalan atau terlewat Zuhurnya berulang-ulang kali dalam hidupnya akan menghadapi masalah di perut dan hilang sifat cerianya. Orang yang tengah sakit perut ceria tak ?

Kemudian warna alam akan berubah kepada warna oren, iaitu masuknya waktu Asar di mana spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi prostat, uterus, ovari dan testis yang merangkumi sistem reproduktif. Rahsia warna oren ialah kreativiti. Orang yang kerap tertinggal Asar akan hilang daya kreativitinya dan lebih malang lagi kalau di waktu Asar ni jasad dan roh seseorang ini terpisah (tidur la tu …). Dan jangan lupa, tenaga pada waktu Asar ni amat diperlukan oleh organ-organ reproduktif kita 😉

Menjelang waktu Maghrib, alam berubah ke warna merah dan di waktu ini kita kerap dinasihatkan oleh orang-orang tua agar tidak berada di luar rumah. Ini kerana spektrum warna pada waktu ini menghampiri frekuensi jin dan iblis (infra-red) dan ini bermakna jin dan iblis pada waktu ini amat bertenaga kerana mereka resonan dengan alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan juga seelok-eloknya berhenti dahulu pada waktu ini (solat Maghrib dulu la …) kerana banyak interferens (pembelauan) berlaku pada waktu ini yang boleh mengelirukan mata kita. Rahsia waktu Maghrib atau warna merah ialah keyakinan, pada frekuensi otot, saraf dan tulang.

Apabila masuk waktu Isyak, alam berubah ke warna Indigo dan seterusnya memasuki fasa Kegelapan. Waktu Isyak ini menyimpan rahsia ketenteraman dan kedamaian di mana frekuensinya bersamaan dengan sistem kawalan otak. Mereka yang kerap ketinggalan Isyaknya akan selalu berada dalam kegelisahan. Alam sekarang berada dalam Kegelapan dan sebetulnya, inilah waktu tidur dalam Islam. Tidur pada waktu ini dipanggil tidur delta dimana keseluruhan sistem tubuh berada dalam kerehatan. Selepas tengah malam, alam mula bersinar kembali dengan warna putih, merah jambu dan seterusnya ungu di mana ianya bersamaan dengan frekuensi kelenjar pineal, pituitari, talamus dan hipotalamus. Tubuh sepatutnya bangkit kembali pada waktu ini dan dalam Islam waktu ini dipanggil Qiamullail.

Begitulah secara ringkas perkaitan waktu solat dengan warna alam. Manusia kini sememangnya telah sedar akan kepentingan tenaga alam ini dan inilah faktor adanya bermacam-macam kaedah meditasi yang dicipta seperti taichi, qi-gong dan sebagainya. Semuanya dicipta untuk menyerap tenaga-tenaga alam ke sistem tubuh. Kita sebagai umat Islam sepatutnya bersyukur kerana telah di’kurniakan’ syariat solat oleh Allah s.w.t tanpa perlu kita memikirkan bagaimana hendak menyerap tenaga alam ini. Hakikat ini seharusnya menginsafkan kita bahawa Allah s.w.t mewajibkan solat ke atas hambanya atas sifat pengasih dan penyayang-Nya sebagai pencipta kerana Dia tahu hamba-Nya ini amat-amat memerlukannya. Adalah amat malang sekali bagi kumpulan manusia yang amat cuai dalam menjaga solatnya tapi amat berdisiplin dalam menghadiri kelas taichinya … 😕

Petua Mencuci Hati oleh Datuk Dr Haji Fadzilah Kamsah

Segala aspek kehidupan ini bermula daripada hati. Oleh itu di bawah ini ada
beberapa cara bagaimana hendak mencuci hati. Diolah oleh pakar motivasi
Datuk Dr. Haji Fadzilah Kamsah.
 

1. Dirikan solat dan banyakkan berdo’a – Ini adalah salah satu
kaedah yang sungguh berkesan. Semasa berdo’a turut katakan “Ya,Allah
jadikan hatiku bersih”
 

2. Selawat keatas Nabi Muhammad s.a.w paling minima 100 X sebelum
tidur – Ini merupakan satu pelaburan yang mudah dan murah. Disamping
dosa-dosa diampunkan, otak tenang, murah rezeki, orang sayangkan kita dan
mencetuskan semua perkara kebaikan.
 

3. Solat taubat – Selain daripada memohon keampunan, dapat mencuci
hati dan menenangkan minda.
 

4. Membaca Al-Quran – Selain dapat mencuci hati juga menenangkan
jiwa, penyembuh, penenang, terapi. Sekurang- kurangnya bacalah
“Qulhu-allah” sebanyak 3X.
 

5. Berma’af-ma’afan sesama kawan setiap hari – Semasa meminta maaf
perlu sebutkan.
 

6. Bisikan kepada diri perkara yang positif – Jangan sesekali
mengkritik, kutuk diri sendiri, merendah-rendahkan kebolehan diri sendiri.
katakan lah “Aku sebenarnya……(perkara yang elok-elok belaka)
 

7. Program minda/cuci minda – Paling baik pada waktu malam sebelum
tidur, senyum, pejam mata, katakan di dalam hati “Ya, Allah cuci otak aku,
cuci hatiku, esok aku nak jadi baik, berjaya, ceria, bersemangat, aktif,
positif”. Menurut kajian saikologi, apa yang disebut sebelum tidur dapat
dirakamkan sepanjang tidur sehingga keesokan harinya – CUBALAH!!).
 

8. Berpuasa – Sekiranya dalam berpuasa terhindar dari melakukan
perkara-perkara kejahatan.
 

9. Cuba ingat tentang mati (Sekiranya hendak melakukan sesuatu
kejahatan, tidak sampai hati kerana bimbang akan mati bila- bila masa).
 

10. Kekalkan wuduk.
 

11. Bersedekah.
 

12. Belanja orang makan.
 

13. Jaga makanan – jangan makan makanan yang subhat.
 

14. Berkawan dengan ulama.
 

15. Berkawan dengan orang miskin (menginsafi).
 

16. Pesan pada orang, jadi baik.
 

17. Menjaga pacaindera (mata, telinga, mulut…dsb), jangan dengar
orang mengumpat.
 

“sampaikanlah pesanan ini walaupun 1”

Dr. Jeffrey Lang dulu cabar kewujudan Tuhan

 Susunan SITI AINIZA KAMSARI
BERKULIT putih dan berambut perang kini menjadi wajah-wajah pendakwah Islam kontemporari. Ini termasuklah Profesor Matematik di Universiti Kansas, sebuah universiti yang terkemuka di Amerika Syarikat (AS), Dr. Jeffrey Lang.Beliau tidak sahaja berkongsi pengalaman uniknya memeluk Islam pada 1982 tetapi beliau menulis buku tentang pengislamannya bagi membuka hati-hati yang selama ini tertutup untuk mengakui kebesaran Tuhan.

Setelah memeluk Islam dan mendirikan solat lima kali sehari semalam, Dr. Jeffrey berkata, ibadat tersebut begitu memberikan kepuasan pada jiwanya terutama ketika mendirikan solat subuh. Ia adalah detik-detik paling indah yang pernah dilaluinya.

“Itu adalah saat anda meninggalkan buat sementara alam dunia ini kerana ternyata dalam suasana sunyi dan sepi itu serta bersama barisan malaikat, kita saling memuji (berzikir) terhadap Allah s.w.t. menunggu terbitnya sang mentari,” katanya.

Apabila ditanya bagaimana beliau begitu tertawan dengan al-Quran yang menggunakan bahasa Arab sedangkan bahasa itu begitu asing baginya selama ini.

Jawab Dr. Jeffrey: “Bagaimana pula seorang bayi (yang tidak mengerti apa-apa) dapat ditenteram hanya setelah mendengar suara ibunya?”

Dr. Jeffrey yang dilahirkan pada 30 Januari 1954 di Bridgeport, Connecticut, AS mengisytiharkan dirinya seorang yang tidak percayakan Tuhan atau ateis ketika berusia 18 tahun walaupun dibesarkan dalam keluarga yang kuat mengamalkan Judeo-Kristian Katolik.

“Saya mempersoalkan jika ada Tuhan yang Maha Penyayang lagi Mengasihani mengapa ada umat yang dibiarkan menderita di muka bumi ini? Kenapa tidak diciptakan sahaja syurga itu di muka bumi ini? Kenapa diciptakan manusia untuk menderita,” katanya.

Pemikiran seperti itu dibentuk sejak beliau belajar di Sekolah Tinggi Lelaki Notre Dame (sebuah sekolah mubaligh Kristian) sehinggalah melanjutkan pelajaran di peringkat ijazah, sarjana dan kedoktoran dalam bidang matematik.

“Sebagaimana bidang itu yang berteraskan logik akal dan bermain dengan fakta dan angka, begitulah juga cara minda saya bekerja.

“Saya akan cukup kecewa apabila sesuatu itu tidak dapat dibuktikan secara konkrit. Selagi tidak dapat dibuktikan secara logik mengenai Tuhan, bagaimana saya dapat percaya adanya Tuhan,” katanya.

Sehinggalah pada suatu malam beliau bermimpi.

“Saya dapati saya berada di sebuah bilik yang berdinding cat putih, kosong. Tidak ada sebarang perabot di dalamnya kecuali hamparan permaidani yang berjalur rona merah dan putih.

Terdapat juga satu tingkap kecil yang mampu membenarkan cahaya matahari masuk bagi menghangatkan bilik itu.

“Ketika itu terdapat tiga barisan lelaki sedang berdiri dan saya di barisan yang ketiga dan masing-masing berdiri menghadap tingkap kecil itu.

“Saya rasa begitu terasing kerana tidak mengenali sesiapa pun di situ dan seolah-olah seperti berada di negara lain. Kami kemudian melakukan tunduk sehingga ke paras pinggang, diikuti muka yang diletakkan hampir mencium tanah.

Mimpi

“Suasana begitu sunyi seolah-olah semua bunyi lain telah dimatikan. Apabila kami duduk semula, baru saya dapati perbuatan kami tadi diketuai oleh seorang lelaki yang saya hanya dapat perhatikan bahagian belakangnya.

“Dia berdiri seorang diri di tengah-tengah barisan kami itu dengan mengenakan jubah putih yang panjang dan mengenakan selendang pada kepalanya. Saya kemudiannya terjaga daripada mimpi itu,” katanya.

Sebenarnya sepanjang 10 tahun sebagai ateis, mimpi seperti itu sering kali mendatangi tidur Dr. Jeffrey. Tetapi beliau tidak pernah menghiraukannya walaupun ada satu perasaan ganjil setiap kali terjaga daripada mimpi itu.

Selepas 10 tahun melanjutkan pelajaran di universiti, beliau kemudian ditugaskan sebagai pensyarah di Universiti San Francisco.

Di situ buat pertama kalinya beliau bertemu Mahmoud Qandel iaitu seorang pelajar Islam yang mengikuti pengajiannya. Dr. Jeffrey mula bersahabat baik dengan Mahmoud dan sering mengunjungi rumah dan keluarga pelajar berkenaan.

Namun soal agama tidak pernah menjadi topik dalam setiap perbualan mereka sehinggalah pada suatu hari Dr. Jeffrey dihadiahkan senaskhah al-Quran dan beliau berjanji pada dirinya tidak akan berpaling tadah apabila membaca kitab suci itu.

Malah beliau membacanya dengan penuh prejudis terhadap Islam.

“Tetapi kamu tidak boleh membaca al-Quran begitu sahaja, kecuali kamu perlu serius mendalaminya. Akibatnya sama ada kamu terus menyerah kalah (kepada kebenaran Tuhan dan agama) atau menyebabkan anda melancarkan satu peperangan kerana isi kandungannya berlawanan dengan kepercayaan anda selama ini.

“Dan saya termasuk golongan yang kedua itu. Tetapi peperangan ini sungguh menarik kerana didapati lama-kelamaan saya semakin tidak dapat mempertahankan diri saya sendiri. Seolah-olah al-Quran itu lebih mengenali dan mengetahui setiap inci kelemahan diri saya berbanding saya mengenali diri saya sendiri.

“Malah Dia sedang membaca fikiran saya. Setiap malam pelbagai persoalan timbul dalam pemikiran saya, tetapi saya beroleh jawapannya melalui al-Quran keesokan harinya.

“Kitab itu mampu memadamkan sedikit demi sedikit fahaman yang saya bina selama ini. Malah kitab itu kini memimpin saya, mengajak saya ke satu sudut kebenaran yang mampu saya terima kerana ia sangat logik,” imbas Dr. Jeffrey ketika al-Quran mula diperkenalkan kepadanya.

Sehinggalah pada suatu hari ketika berusia 28 tahun, Dr. Jeffrey terjumpa sebuah bilik yang terletak di tingkat bawah sebuah gereja di universiti.

Bilik itu agak pelik kerana ia mengingatkan beliau pada sesuatu. Kemudian beliau diberitahu bahawa bilik itu sebenarnya dijadikan surau bagi membolehkan pelajar Islam di universiti itu mendirikan solat.

Beliau kemudian terpaku di situ sambil mindanya bergelut dengan pelbagai perkara. Dr. Jeffrey merasakan dirinya mempunyai kekuatan untuk melakukan satu perubahan pada pendirian dan falsafah hidupnya selama ini.

Kini beliau meyakini bahawa Tuhan itu wujud, malah kerana adanya Tuhanlah, dengan kekuasaan-Nya itu Dia mampu mengubah dan menggoyahkan pegangannya selama ini yang tidak percayakan Tuhan.

Tanpa membuang masa, beliau melafazkan dua kalimah syahadah bersaksikan beberapa pelajar Islam yang ketika itu hendak menunaikan solat di bilik itu.

Seolah-olah berlaku satu perayaan, mereka semua gembira dengan perubahan besar yang dilakukan Dr. Jeffrey itu lalu mereka mendirikan solat Asar berjemaah dan berdoa bagi meraikan kehadiran saudara baru itu.

Seusai solat, tiba-tiba Dr. Jeffrey menggigil ketakutan.

“Mimpi itu! Ya mimpi itu! Suasana kami mendirikan solat jemaah sebentar tadi tidak ubah seperti yang selalu datang dalam mimpi saya.

“Bilik ini, para jemaah dan pergerakan solat itu seperti yang selalu saya mimpikan. Betapa hebat kebetulannya dan sukar untuk saya mempercayainya.

“Saya cuba memfokuskan semula fikiran ekoran apa yang berlaku itu. Setelah menarik nafas saya seolah-olah disirami rasa dingin yang menjalar ke seluruh badan. Tuhan! Ia adalah satu kenyataan, sejurus itu juga air mata saya mengalir laju membasahi pipi,” katanya.

Kepatuhan

Perjalanan seseorang untuk memeluk Islam adalah begitu unik dan berbeza antara satu sama lain. Seperti yang berlaku pada Dr. Jeffrey, daripada seorang yang mencabar mengenai kewujudan Tuhan, beliau kini seorang yang mempunyai kepatuhan yang tidak berbelah bagi terhadap Allah.

Daripada seorang panglima ateis yang begitu bengis dengan menjadikan al-Quran sebagai musuh, beliau akhirnya mengaku kalah dan tunduk kepada kitab itu.

“Semua yang saya anggap selama ini begitu hebat di kepala (ateis) kini kedudukannya berada di atas tanah, sujud sebagai tanda penyerahan diri kepada-Nya,” katanya.

Dr. Jeffrey berkahwin dengan seorang wanita warga Arab bernama Raika dan dikurniakan tiga orang anak perempuan. Beliau kini giat berdakwah di kalangan rakyat kulit putih Amerika.

Untuk tujuan dakwah, beliau juga menulis buku-buku. Antara yang begitu mendapat sambutan di AS ialah Struggling To Surrender – Some Impressions Of An American Convert To Islam (Beltsville, 1994) dan Even Angels Ask: A Journey To Islam In America (Betsville, 1997) dan Losing My Religion: A Call For Help (Betsville, 2000).

Buku-buku tersebut menjelaskan kepada kita bagaimana fakta-fakta daripada al-Quran dan ajaran Islam mampu menangkis fahaman ateis.

Mempakej semula imej Islam Oleh Manan Razali

 Akidah murni ummah pemangkin utama untuk kembalikan kecemerlangan SEJAK akhir-akhir ini, beberapa kenyataan mengenai isu semasa yang dikeluarkan Mufti Perlis, Dr Mohd Asri Zainul Abidin, mendapat perhatian pelbagai lapisan masyarakat di negara kita termasuk media. Disebabkan kenyataan beliau tidak selari dengan pemahaman konvensional yang sudah sebati dengan masyarakat umum terhadap Islam, maka pelbagai reaksi timbul. Isu diutarakan beliau adalah serius yang harus diperbetulkan jika kita mahu Islam terus relevan sebagai cara hidup bersifat universal untuk manusia sejagat yang makin gawat kedudukannya hari ini kerana terpaksa berhempas-pulas dengan pelbagai isu kontemporari kronik yang tidak pernah wujud sebelum ini. Hakikatnya, Islam bukan milik sesuatu kaum atau golongan, sebaliknya, Islam adalah agama wahyu untuk manusia sejagat. Islam yang diutus kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada manusia adalah mudah dan bersifat universal kerana ia selari dengan fitrah manusia yang dijadikan Allah, sebagai Rabb semesta alam. Jika Islam susah dan mengelirukan, sudah tentu kaum Arab Badwi yang bertaburan di padang pasir kira-kira 1,400 tahun lalu yang hobi mereka berperang sesama sendiri tidak boleh menerimanya dalam jangka masa pendek selama 23 tahun. Tetapi, disebabkan Islam mudah diterima akal sihat dan berjiwa murni serta tidak membebankan untuk dipraktik, maka Arab Badwi yang tidak bertamadun dan keras hati itu pun boleh terkulai layu dengan Islam sehingga mengubah mereka daripada bangsa hina pada asalnya kepada satu bangsa yang penyantun, mulia dan dihormati dunia pada zaman kegemilangan Islam suatu ketika dulu. Malangnya, Islam yang diamalkan oleh umatnya sejak beberapa kurun kebelakangan ini dan oleh kita kini sudah tersasar dari bentuknya yang asal. Ia dijadikan sebagai agama bersifat ritual yang dipenuhi dengan pelbagai amalan bidaah dan khurafat yang tidak pernah diajar atau dipraktikkan oleh Rasulullah SAW dan sahabat Baginda dulu. Agama dan cara hidup yang pada asalnya sangat mudah, indah dan luas skopnya baik dari aspek ibadah dan muamalat sudah diubah menjadi susah, lesu dan sempit hingga tidak kelihatan relevan pada zaman yang serba canggih sekarang kerana ketulenannya dicemari. Salah satu masalah utama di Malaysia ialah hampir semua daripada kita sebagai orang Melayu berfikir bahawa Islam adalah milik bangsa kita saja. Kita tidak mahu fikir Islam juga milik bangsa lain kerana mereka juga ada hak untuk memahami dan menerima Islam sebagai insan bergelar manusia yang dicipta oleh Tuhan sama. Tetapi, bagaimana kita mahu terangkan Islam kepada mereka jika akidah kita sendiri tunggang langgang? Bagaimana kita ingin menarik perhatian mereka jika akhlak kita menjelekkan? Bagaimana kita hendak memikat mereka jika Islam yang kita gambarkan berwajah keras yang hanya mahu mencari kesilapan orang dan menghukum? Jika bercakap, kita tahu beremosi saja. Ilmu, adab dan akhlak langsung entah ke mana dicampaknya. Hikmah dan kebijaksanaan yang sepatutnya ditunjukkan ketika berdakwah adalah sesuatu yang sangat asing bagi kita. Kita sibuk berkokok di sana sini bahawa orang Islam perlu kembali kepada al-Quran dan sunnah, tetapi pada masa sama apa yang kita praktikkan, langsung tidak seperti apa dikata. Kalau ada mana-mana pihak cuba memperbetulkan keadaan ini dengan membawa hujah berlandaskan dalil sahih, kita akan berhempas pulas cuba menolaknya dengan pelbagai alasan dan pandangan lemah untuk menjustifikasikan pendirian kita walaupun ia jelas bercanggah dengan al-Quran dan sunnah. Maka hasilnya ialah Islam yang sepatutnya mudah difahami dan diamalkan itu bertukar menjadi sangat mengelirukan dan membebankan. Oleh demikian, bukan orang bukan Islam saja takut kepada Islam orang Melayu tidak mempunyai latar belakang Islam yang mencukupi pun tidak yakin kepada Islam dan sudah berani menolaknya secara terang-terangan sejak akhir-akhir ini. Laungan bahawa Islam adalah cara hidup lengkap dan mampu menjana kemajuan rupa-rupanya tidak lain hanya slogan bersifat retorik. Hakikatnya ialah sebahagian besar daripada kita jahil mengenai agama kita sendiri dan sikap bodoh sombong kita yang tidak sedarkan diri hanya memburukkan lagi keadaan ini. Disebabkan inilah apabila Mohd Asri baru sentuh sedikit mengenai isu mengintip orang berkhalwat yang tidak pernah diajar atau disuruh oleh Rasulullah SAW, ramai beri komen menuduh beliau menggalakkan orang buat maksiat. Padahal, apa yang Nabi ajar ialah sesuatu yang boleh menggalakkan maksiat itu perlu dihalang dan ditutup terlebih dulu. Sepatutnya usaha kita dipusatkan, bukannya mengintip orang yang membuat maksiat dan kemudian mengaibkan mereka di khalayak ramai. Perbuatan seumpama ini tidak pernah tercatat di mana-mana bahagian dari sirah Rasulullah dan pada zaman pemerintahan sahabatnya dulu. Sama ada kita suka atau tidak, inilah hakikatnya kalau kita rujuk kembali kepada Sunnah. Jika kita benar-benar jujur mahu memartabatkan al-Quran dan sunnah, kita mesti terima kenyataan ini dan ubah cara kita untuk menangani masalah khalwat walaupun kita mungkin berasa janggal mengenainya. Saya juga mahukan negara yang memerintah berdasarkan hukum syariah kerana bercita-citakan matlamat ini adalah satu tuntutan wajib bagi setiap individu yang mengaku Muslim. Jika tidak, maka rosaklah akidah kita. Ini bukan hal main-main. Tetapi saya juga bersikap realistik kerana matlamat suci ini tidak akan tercapai dan mustahil dapat dilaksanakan dengan baik jika masyarakat tidak bersedia kerana jahil dan bingung dengan bagaimanakah wajah Islam yang akan memerintah dan mentadbir negara dan hidup rakyat kelak jika pihak yang ke sana dan ke mari memperjuangkan Islam tidak mampu menjaga adab dan perilaku mereka. Rasulullah SAW memerintah di Madinah selepas 13 tahun mendidik kaumnya dengan penuh kesabaran di Makkah mengenai tauhid dan asas akidah. Pada masa sama, Baginda menghantar wakil ke Madinah untuk menyampaikan ilmu ini sebelum berhijrah ke sana. Setibanya di Madinah, tampuk pemerintahan negara terus diserahkan kepada Baginda dengan cara sukarela oleh rakyatnya kerana yakin kepada keindahan dan keadilan Islam walaupun sebahagian besar daripada mereka tidak pernah berjumpa Rasulullah SAW. Mengapa boleh jadi begini? Jawapannya mudah: Ia berlaku kerana akidah mereka mantap dan sudah kenal siapakah Tuhan mereka. Ilmu tauhid yang dipasak dalam dada mereka oleh sahabat Rasulullah yang mewaklili Baginda di Madinah sebelum Baginda sampai berjaya memberi kesan besar dan luar biasa kepada jiwa mereka. Mereka dapat lihat wajah Islam bersifat penyayang, adil dan indah itu melalui akhlak dan peribadi insan yang menyampaikan ajaran Islam kepada mereka. Mereka yakin jika Islam memerintah dan mentadbir hidup mereka, tentulah mereka akan mendapat kebaikan, kesejahteraan dan keberkatan di dunia dan akhirat. Saya yakin Islam yang diajar oleh wakil Rasulullah SAW ini mudah difahami dan dihayati. Jika ia berbelit-belit untuk difahami dan orang menyampaikannya bersikap kasar, tidak bijaksana, pengotor, cakap tidak serupa bikin serta mempamerkan sikap negatif, sudah tentu penduduk Madinah tidak akan menerima mesej yang hendak disampaikan itu walaupun mesej itu benar. Dengan erti kata lain, sesuatu yang baik dan berkualiti tinggi itu mesti juga dipakej dengan cantik dan menarik jika kita mahu ia laris disambut dan dibeli pelanggan. Sebaliknya jika pakejnya buruk, jangan harap orang akan berminat untuk membelinya walaupun isinya mungkin bagus. Seterusnya, apabila ayat berkaitan hukum-hakam diturunkan Allah kepada mereka melalui Rasulullah SAW selama 10 tahun berikutnya di Madinah untuk dipraktikkan, mereka langsung tidak membantah walau sedikit pun. Sikap mereka ialah ‘Wa samiqna, wa atoqna’ yang bermaksud: ’Aku dengar dan aku patuh’. Mustahil mereka boleh bersikap demikian jika akidah mereka kabur. Disebabkan inilah Islam gemilang pada zaman itu dan pada zaman sahabat. Ia bukan saja difahami dan dihayati dari segi teorinya, malah berjaya diamalkan dengan penuh kecantikan, sesuai dengan tujuan Allah menurunkannya kepada manusia. Inilah sikap mukmin yang kita juga inginkan pada hari ini tetapi tidak boleh dicapai sekelip mata kerana syarat asasnya adalah akidah murni dan mantap. Akidah itu hanya boleh dibentuk jika penerangan dan penyampaiannya berdasarkan ilmu yang jelas dengan penuh hikmah mengikut contoh dan teladan yang ditunjukkan Rasulullah SAW dan sahabat Baginda. Saya bukan lurus bendul yang hidup dalam alam khayalan. Saya akui apa yang digambarkan di atas tidak mudah dilaksanakan di celah kepincangan yang berlaku dengan meluas dalam sistem politik, ekonomi dan sosial dalam masyarakat kita hari ini. Umum mengetahui kepincangan inilah yang menyebabkan amalan rasuah, maksiat dan pelbagai penyakit sosial begitu serius melanda negara kita sehingga membuat hidup seharian kita menjadi gawat. Tindas menindas berlaku di mana-mana saja dan segala usaha yang menjurus kepada ‘amar maaruf nahi mungkar’ dihalang sementara program kemungkaran pula diberi sokongan dan galakkan. Untuk hidup dan menyara keluarga di negara ini sekarang bukan mudah disebabkan oleh kos sara hidup meningkat setiap hari akibat sikap tidak amanah oleh pihak tertentu yang menyebabkan berlakunya pembaziran berleluasa. Tetapi ia lumrah hidup yang sudah berlaku sejak zaman berzaman. Tidak ada bezanya apa yang berlaku hari ini berbanding zaman Arab jahiliah dulu. Watak yang terbabit dalam drama bersiri ini sama, cuma pelakonnya bertukar. Kalau dulu Abu Jahal dan Abu Lahab memakai jubah dan serban, hari ini pelakon yang memegang watak yang sama memakai kot atau bush-jacket pula. Masalah ini berlaku kerana ramai manusia sombong, angkuh, takbur dan tidak sedar diri kerana mereka tidak mengenal Tuhan serta tidak terfikir apa yang bakal menanti apabila mereka dipanggil menghadap Rabb yang mencipta mereka satu hari nanti. Maka apabila mereka mempunyai sedikit kuasa yang diamanahkan oleh rakyat, mereka mengkhianati amanah ini dengan penuh kerakusan demi memuaskan hawa nafsu yang dididik dengan sempurna oleh iblis. Oleh itu, sementara kita bersama-sama berusaha tanpa jemu untuk mencari jalan membanteras penyakit ini dan memperbetulkan kepincangan yang berleluasa di negara ini melalui saluran yang ada, peranan dakwah untuk mengajak orang ramai mengenal Tuhan yang satu dan memperbaiki imej Islam melalui akhlak yang baik tidak boleh diabaikan. Kedua-dua usaha ini mesti seiring. Ia adalah tugas yang diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada seluruh umatnya dan tanggung-jawab kita melaksanakannya dengan baik. Pada masa sama, kebijaksanaan dan kelunakan kita dalam melaksanakan aktiviti dakwah supaya Islam kelihatan cantik dan menarik kepada orang ramai janganlah disalahertikan sebagai langkah yang ingin meliberalkan Islam. Golongan yang berfahaman liberal menafsirkan al-Quran dan sunnah mengikut selera nafsu tanpa mengambil kira batas akidah, manakala apa disarankan oleh Mohd Asri adalah bertunjangkan kepada sunnah walaupun ia mungkin kelihatan seperti langkah’liberal’ daripada pandangan mata kasar. Kekeliruan ini timbul kerana majoriti daripada kita tidak cukup terdedah kepada sunnah Rasullullah SAW. Kita akan memusuhi apa yang kita jahil mengenainya dan cepat sekali menuding jari kepada orang lain. Islam harus ditegakkan dengan ilmu sahih dan akhlak tinggi, bukannya dengan sangkaan yang tidak berteraskan kepada dalil sahih dan emosi tidak terkawal. Kita perlu memahami dan mempraktikkan Islam mengikut al-Quran berdasarkan kepada contoh dan acuan yang ditunjuk ajar oleh Rasulullah SAW dan sahabat Baginda tanpa perlu kita menokok-tambah atau mengurangi apa-apa darinya supaya ketulenan Islam dapat dipelihara bagi mengelakkannya ia menjadi sempit, mengelirukan dan membebankan. Jika kita dakwa Islam itu relevan dan mampu menyelesaikan pelbagai masalah sosial, ekonomi dan kehidupan manusia sejagat, maka sudah sampai masanya kita buktikan Islam itu adil, praktikal, progresif, penyayang, menasabah dan boleh diterima oleh akal sihat supaya ia mampu menarik minat setiap manusia berjiwa murni untuk mendekatinya. Dengan perkataan lain, imej dan wajah Islam harus diperbaiki serta dipakej dengan menarik bukan hanya dengan slogan tetapi dengan tindakan berkesan berteraskan Al-Quran dan sunnah yang mempunyai skop sangat luas. Islam itu sememangnya sempurna dan berwajah cantik. Tindak tanduk kitalah yang akan menentukan sama ada ia kekal cantik dan menawan atau hodoh dan dibenci.

Ellison bawa sinar baru Islam di AS Oleh Abdurrahman Haqqi

Ahli Kongres angkat sumpah guna al-Quran bukti Muslim diterima

PADA 4 Januari lalu adalah hari bersejarah bagi Islam dan umat Islam di Amerika Syarikat. Di negara yang sedang mempersiapkan diri untuk memerangi kononnya radikal Islam selama 100 tahun mendatang selain mendakwa pelopor demokrasi dunia dalam sejarahnya yang lebih 200 tahun, tercatat satu sejarah. Kejadian yang dimaksudkan adalah penggunaan al-Quran dalam acara rasmi negara apabila Keith Ellison mengangkat sumpah sebagai Ahli Kongres Amerika Syarikat.

Seperti dimaklum, Ellison adalah Muslim pertama menduduki jawatan tinggi di Amerika apabila terpilih pada pilihan raya November lalu mewakili Parti Demokrat di Minneapolis.

Yang tersurat daripada kisah tersirat Amerika adalah al-Quran itu sendiri di mana dikatakan ia adalah bahan koleksi Presiden Amerika Syarikat ketiga, Thomas Jefferson. Ini mengisyaratkan bahawa sebenarnya Islam sudah wujud dalam lipatan sejarah kepemimpinan negara George W Bush itu.

Mushaf yang diterbitkan pada 1764 sebagai cetakan ulang tahun 1734 di London itu menjadi saksi bisu sejarah Islam di Amerika. Oleh itu, Ellison menyatakan bahawa Amerika memiliki seorang tokoh berpandangan ke depan, sangat beragama dan penuh toleransi, mempercayai nilai kebijaksanaan yang boleh diambil dari mana saja termasuk al-Quran. Ellison ingin membuktikan kata-katanya dengan meminta perpustakaan Kongres membenarkannya menggunakan al-Quran bersejarah yang pernah terselamat daripada kebakaran gedung Perpustakaan Kongres pada 1851.

Ellison mempunyai visi dan misi keislaman di negara yang pada batinnya tidak menyukai Islam dan pada zahirnya memerangi umat Islam di mana-mana dan yang terakhir adalah serangan ketenteraan di Somalia awal minggu ini. Somalia yang tandus dan masih jauh daripada kenikmatan dunia moden itu digempur tentera yang haus darah pengganas ciptaan mereka sendiri.

Ellison berdakwah sendirian di tengah-tengah demokrasi Amerika dalam gedung Kongres yang masih bermaharajalela di dalamnya pemikiran yang dimiliki Virgil Goode. Goode, wakil parti Republikan, khuatir Amerika akan menjadi negara Islam pada kemudian hari jika tidak ada penyekatan dalam peraturan imigresen mereka. Dia berkata: “Jika Amerika tidak segera bangkit dan tidak menerima pandangan saya berkenaan imigresen, kelak lebih ramai Muslim terpilih menjadiAhli Kongres dan menggunakan al-Quran sebagai upacara mengangkat sumpah.”

Apa yang dikhuatiri Goode memang akan berlaku bahkan bukan hanya di Amerika bahkan di seantero jagat raya. Pemikiran seperti Goode diterjemahkan dengan mempersiapkan pelbagai cara melawan kemaraan agama Allah seperti dituangkan oleh rancangan 100 tahun perang Amerika Syarikat. ‘Perang Islam 100 tahun’ di mana dilaporkan bahawa seorang jeneral kanan tentera Amerika meminta rakyat negaranya bersedia menghadapi perang selama 50 hingga 100 tahun dengan golongan radikal Islam, satu perjuangan menentang puak komunis ketika Perang Dingin yang memakan masa 40 tahun.

Usaha itu membabitkan aspek ketenteraan dan ideologi, kata Brigadier Jeneral Mark O Schissler yang juga Timbalan Pengarah bagi Perang Menentang Keganasan di Jabatan Pertahanan Amerika (Pentagon), ketika diwawancara akhbar.

Keupayaan jeneral kanan Amerika ini membuktikan sebuah hadis yang berbunyi maksudnya: “Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga melimpah ruah harta benda dan timbul fitnah (ujian kepada keimanan) dan banyak berlaku al-harj”. Sahabat bertanya, “Apakah al-harj itu hai Rasulallah”? Nabi Saw menjawab: “Peperangan demi peperangan demi peperangan”. (Hadis riwayat Ibnu Majah)

Membaca kisah perjuangan Ellison masa lalu, kini dan akan datang dalam Kongres Amerika mengingatkan kita kepada sebuah kisah al-Quran mengenai Firaun dan ahli mesyuaratnya. Dalam kisah itu diceritakan bagaimana seorang Mukmin yang membela perjuangan Nabi Musa. Orang Mukmin itu berada dalampemerintahan Firaun ketika itu.

Al-Quran mengisahkan maksudnya: “Dan (pada saat itu) berkatalah pula seorang lelaki yang beriman daripada orang Firaun yang menyembunyikan imannya: Patutkah kamu membunuh seorang lelaki kerana dia menegaskan: Tuhanku ialah Allah? Sedang dia datang kepada kamu membawa keterangan daripada Tuhan kamu? Kalau dia seorang yang berdusta maka dialah yang akan menanggung dosa dustanya itu dan kalau dia seorang yang benar nescaya kamu akan ditimpa sebahagian daripada (azab) yang dijanjikannya kepada kamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang yang melampaui batas, lagi pendusta.

Wahai kaumku! Pada hari ini kepunyaan kamulah kuasa memerintah dengan bermaharajalela di muka bumi (Mesir dan sekitarnya; tetapi kiranya keadaan bertukar) maka siapakah yang akan membela kita daripada azab Allah kalau azab itu datang menimpa kita? Firaun berkata: Aku tidak mengesyorkan kepada kamu melainkan dengan apa yang aku pandang (elok dijalankan) dan aku tidak menunjukkan kepada kamu melainkan jalan yang benar.” (Surah al-Mu’min: 28-29)

Masyarakat Islam, kata Sayyid Qutub, ialah satu-satunya masyarakat yang dikawal dan dilindungi Allah Yang Maha Esa. Anggota masyarakat itu meninggalkan dan membuang jauh segala bentuk pemujaan dan pendewaan kepada sesama manusia untuk melakukan pemujaan dan pendewaan kepada Allah SWT saja.

Oleh sebab itulah anggota masyarakat menjadi orang yang bebas dan merdeka sepenuhnya, kebebasan yang menjadi paksi keseluruhan tamadun dan kehormatan umat manusia seperti ditakdirkan Allah sejak azali sewaktu Allah memproklamasikan kepada malaikat untuk melantik manusia sebagai khalifah-Nya di bumi ini.

Bila saja program yang berpunca daripada Tuhan Yang Maha Esa menjadi tali pengikat antara umat manusia, dalam mana kedaulatan bagi seluruh umat manusia tidak bersumber daripada sebarang kuasa duniawi dalam bentuk pengabdian dan penindasan atas sesama umat manusia nescaya masyarakat itu menjadi sebuah masyarakat yang ideal yang boleh menggambarkan keindahan ciri kemanusiaan, iaitu ciri roh dan fikiran.

Sebaliknya apabila saja dasar perkauman, kebangsaan, warna kulit dan tanah air, persamaan nasib dan lain-lain lagi, yang menjadi tali pengikat antara kelompok umat manusia, maka jelaslah dasar itu tidak menggambarkan ciri kemanusiaan, sebab manusia akan tetap menjadi manusia juga tanpa kebangsaan, tanpa warna kulit dan tanah air, tetapi manusia itu bukan manusia lagi tanpa roh dan fikiran.

Di samping itu berdasarkan kebebasan dan kemahuan sendiri manusia boleh mengubah akidahnya, boleh mengubah fikirannya, dan juga mengubah program hidupnya, sebaliknya manusia tidak akan berdaya mengubah kebangsaan dan warna kulitnya, seperti juga dia tidak akan berupaya mengubah tempat kelahirannya.

Sebuah masyarakat yang di dalamnya manusia berkumpul dan berorganisasi berdasarkan kemerdekaan dan kebebasan kemahuan fitrah kemanusiaan itulah masyarakat yang bertamadun.

Adapun sebuah masyarakat yang di dalamnya manusia berkumpul berdasarkan sesuatu di luar kemerdekaan dan kebebasan fitrah kemanusiaan, maka masyarakat itu adalah sebuah masyarakat yang songsang atau mengikut istilah Islam, masyarakat itu ialah masyarakat ‘jahiliah’.

Sesungguhnya masyarakat Islam saja yang anggotanya berkumpul berdasarkan kemerdekaan dan kebebasan. Ia juga sebuah masyarakat yang menganggap ‘akidah’ sebagai rupa bangsa yang mengumpulkan orang berkulit putih, hitam, merah dan kuning, mengumpulkan orang Arab, Romawi, Parsi, kulit hitam dan seluruh bangsa manusia di muka bumi ini menjadi umat yang bertuhankan Allah, yang memuja dan menyembah-Nya saja.

Orang yang paling mulia dan dihormati di dalam masyarakat itu ialah orang paling bertakwa dan orang selainnya adalah setaraf dalam menjunjung hukum dan perintah Allah.

Islam akan kekal bersinar dan menyinari bumi ini walaupun dalam keadaan yang asing seperti disabdakan Rasulullah bermaksud: “Islam mula tersebar dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali asing pula. Maka beruntunglah orang yang asing.” (Hadis riwayat Muslim)

Islam mulai tersebar di Makkah dengan keadaan sangat asing dan dagang. Sangat sedikit penganut dan pendukungnya kalau dibandingkan penentangnya. Kemudian selepas itu Islam tersebar ke seluruh pelosok dunia sehingga dianuti dua pertiga penduduk dunia.

Kemudian Islam kembali asing dan dirasa ganjil daripada pandangan dunia, bahkan pada pandangan orang Islam sendiri. Sebahagian daripada orang Islam berasa ganjil dan pelik bila melihat orang Islam yang iltizam (komitmen) dengan Islam dan cuba mengamalkan tuntutan Islam sebenar.

Seorang yang iltizam dengan Islam dipandang sepi masyarakat dan terlalu susah untuk diterima sebagai individu yang sihat. Contohnya, kalau ada sesuatu program kemasyarakatan kemudian masuk waktu sembahyang, tiba-tiba ada seorang yang meminta diri untuk menunaikan sembahyang, maka tindakan ini dianggap tidak sopan dan kurang wajar. Sedangkan orang yang tidak bersembahyang sambil bersenda-senda ketika orang lain bersembahyang tidak dianggap sebagai perbuatan yang salah dan terkutuk.

Begitulah seterusnya nasib lslam pada akhir zaman. Ia akan terasing dan tersisih daripada masyarakat, bahkan tersisih daripada pandangan orang Islam sendiri yang mengaku sebagai umat Islam dan marah apabila dikatakan yang dia bukan orang Islam. (An-Nadwi, hadis ke-7)

Kisah Ellison adalah kisah asing bagi masyarakat Amerika yang dikuasai pemikiran Goode. Tetapi, walaupun semua orang Amerika yang berjumlah hampir 300 juta berfikiran seperti fikiran Goode, agama Islam akan tetap bersinar walaupun hanya disebabkan oleh satu orang saudara kita, Ellison. Allah ma’ak.

Yusuf Estes terima hidayah dalam satu malam

YUSUF Estes menyifatkan pengislamannya sebagai perkara yang paling berharga dalam hidupnya.


Susunan: ZUNAIDAH ZAINON
HIDAYAH datang tanpa disangka. Walau sehebat mana sekalipun menangkis, namun atas kehendak Allah s.w.t., maka kita akan menerimanya dengan hati yang reda. Begitulah yang melanda kehidupan seorang paderi kelahiran Amerika Syarikat (AS), Yusuf Estes hingga beliau menerima Islam sebagai pengabadian hidup.

“Ramai orang bertanya kepada saya, bagaimana pengkhutbah atau paderi boleh memeluk Islam terutamanya setelah mengetahui semua perkara negatif mengenai Islam hampir setiap hari. Bagaimanapun, saya menyifatkan pengislaman ini sebagai perkara yang cukup berharga setelah menerima hidayah Allah s.w.t,” ujarnya yang merupakan paderi tentera di Penjara Awam AS.

Yusuf Estes dilahirkan dalam sebuah keluarga yang kuat pegangan Kristian di Midwest. Keluarganya bukan sahaja membina gereja dan sekolah tetapi merupakan orang pertama yang meneroka kawasan tersebut. Beliau masih berada di sekolah rendah semasa ditempatkan di Houston, Texas pada 1949.

“Saya selalu mengikut keluarga ke gereja dan dibaptiskan pada usia 12 tahun di Pasadena, Texas. Sebagai remaja, minat untuk mengunjungi gereja-gereja lain dan mendalami ajaran dan kepercayaan Kristian semakin bercambah.

“Pada masa yang sama, saya turut berminat mengkaji agama lain termasuklah Hindu, Yahudi, Buddha, Metafizik dan kepercayaan asal orang Amerika. Tetapi entah kenapa, saya tidak mengkaji Islam secara serius berbanding agama-agama tersebut,” ceritanya mengimbas kenangan yang membawanya mengenali agama Islam.

Membesar dalam sebuah keluarga yang berpegang kuat pada agama, sedikit sebanyak membuatkan Yusuf cenderung kepada genre muzik Gospel dan klasik. Akhirnya, beliau memilih untuk melanjutkan pelajaran dalam bidang yang berkaitan dengan muzik dan agama.

Bakatnya itu membawa beliau dilantik sebagai paderi muzik di beberapa buah gereja dan kemudiannya mula mengajar keyboard pada 1960. Beliau berjaya memiliki studionya sendiri pada 1963 dengan nama Studio Muzik Estes di Laurel, Maryland.

Selama 30 tahun, beliau dan ayahnya bergandingan menguruskan projek perniagaan yang berasaskan hiburan dan persembahan. Beliau turut membuka stor piano dan organ dari Texas dan Oklahoma hingga ke Florida. Akui Yusuf, bisnesnya amat menguntungkan tetapi beliau tidak menemui ketenangan jiwa.

Namun pada 1991 ketika berumur 54 tahun, beliau menemui bahawa kepercayaan mengenai agama Islam terkandung di dalam kitab Injil. Baginya, ini adalah sesuatu yang melampau dan di luar dugaan terutama apabila beliau mendapati pembawa kitab Injil yang digunakan untuk mengembara seluruh dunia terlalu membenci Islam.

Menurut Yusuf, ayahnya bergiat aktif dengan menyokong aktiviti gereja terutama program sekolah di gereja dan ditahbiskan sebagai paderi pada 1970. Kemudian ayah dan ibu tirinya mengenali banyak paderi dan mengunjungi Oral Roberts dan membantu dalam pembinaan Prayer Tower di Tulsa. Mereka juga adalah penyokong kuat Jimmy Swaggart, Jim dan Tammy Fae Bakker, Jerry Fallwell, John Haggi termasuklah musuh ketat bagi orang Islam, Pat Robertson.

“Mereka turut menerbitkan kaset puji-pujian dan mengedarkannya secara percuma ke beberapa rumah warga tua dan hospital. Pada 1991 juga, beliau memulakan bisnes dengan seorang lelaki yang berasal dari Mesir. Ayah mahu saya berjumpa dengannya.

“Dalam kepala, saya terbayangkan tentang piramid, Sungai Nil dan segala keindahan yang terdapat di Mesir. Tetapi, setelah ayah memberitahu saya bahawa lelaki ini adalah Islam, hati saya tersentak. Bagaimana ayah boleh mempercayai individu yang menganut agama yang menyuruh umatnya menjadi pengganas dan pengebom berani mati? Saya tidak mahu berjumpa dengan lelaki ini hanya kerana dia adalah Muslim!” kata Yusuf.

Bagaimanapun ayahnya tetap memaksa beliau berjumpa dengan lelaki itu yang bernama Mohamed Abel Rehman dengan menyifatkannya seorang lelaki yang baik. Apabila menemuinya, Yusuf amat terkejut kerana penampilan Mohamed jauh meleset daripada sangkaannya.

“Saya selalu mengandaikan bahawa lelaki Islam mestilah berjanggut dan memakai serban di atas kepalanya tetapi penampilannya jauh berbeza. Dia amat ramah dan menghulurkan tangan untuk bersalam. Walaupun begitu, saya berpendapat, dia perlu diselamatkan,” cerita Yusuf mengenai pertemuannya dengan lelaki tersebut.

Kesempatan bertemu dengan Mohamed, Yusuf mengajukan beberapa soalan berkaitan agama dan kepercayaan kepada Tuhan. Mereka kemudiannya berbual panjang dan mendapati Mohamed sangat mesra dan tidak menyampuk semasa Yusuf bercakap. Oleh itu, beliau berpendapat, yang Mohamed akan menjadi penganut Kristian yang baik.

Buat pertama kalinya, beliau bersetuju dengan pandangan ayahnya yang mahu melakukan urusan bisnes dengan lelaki yang berasal dari Mesir itu dan bercadang mengajaknya untuk mengikuti trip perniagaan ke Texas.

Peluang untuk menarik Mohamed kepada agama Kristian terbuka luas apabila Mohamed ingin berpindah keluar daripada rumah yang didudukinya dan bercadang tinggal di masjid buat sementara waktu. Yusuf memohon kebenaran dari ayahnya agar Mohamed tinggal di rumahnya supaya dapat menguruskan perniagaan dengan lancar.

Kesibukan dengan perniagaan tidak menghalang Yusuf menziarah rakan-rakan paderinya yang menetap sekitar Texas termasuklah salah seorang rakannya yang dimasukkan ke hospital kerana diserang sakit jantung. Beliau membawa Mohamed melawat rakannya yang terlantar sakit itu dengan harapan dapat berkongsi pandangan mengenai agama. Tetapi rakannya tidak berminat mengenai Islam.

Bagaimanapun suatu hari, Yusuf didatangi seorang lelaki yang berkerusi roda dan merupakan teman sebilik rakannya. Melihat keadaan dan sikapnya, beliau dapat mengagak bahawa lelaki tersebut dalam kesunyian dan memerlukan seseorang untuk membantunya.

“Saya pergi kepadanya dan berkongsi cerita mengenai kisah Nabi Yunus yang ditelan ikan paus dan tenggelam di laut tetapi tiga hari kemudian, Nabi Yunus timbul semula dan kembali ke bandarnya dengan selamat. Pengajaran daripada kisah di atas ialah setiap masalah ada jalan penyelesaiannya.

“Selepas berkongsi cerita dengannya, lelaki itu memandang saya dan memohon maaf di atas sikapnya yang kurang sopan dan pernah berhadapan dengan masalah serius beberapa tahun lalu. Kemudian dia ingin membuat pengakuan tetapi saya bukan paderi Katolik.

“Saya terperanjat apabila lelaki itu mengaku bahawa dia adalah paderi Katolik yang dikenali sebagai Father Peter Jacob. Saya memanggilnya Pete. Dia kemudiannya berkongsi kisah hidupnya dengan saya semasa menjadi mubaligh Kristian selama 12 tahun ke serata AS dan Mexico.

Apabila dia dibenarkan keluar daripada hospital, saya mengajaknya tinggal bersama kami. Pete turut menceritakan bahawa paderi Katolik turut mendalami Islam dan ada sebahagiannya memiliki Doktor Falsafah dalam bidang berkenaan,” ceritanya panjang lebar.

Sejak Pete tinggal bersama mereka, Yusuf dan keluarganya membincangkan mengenai Kristian sewaktu makan malam sebagai usaha untuk menarik Mohamed kepada agama tersebut. Yusuf juga menyoal Mohamed mengenai jumlah versi al-Quran yang diturunkan sejak 1,400 tahun lalu. Mohamed menyatakan bahawa hanya ada satu sahaja al-Quran dan tidak ada versi yang lain. Malah al-Quran adalah kitab panduan yang diturunkan kepada umat Nabi Muhammad s.a.w.

Selepas melalui banyak perbincangan mengenai agama, Pete berminat mengikut Mohamed ke masjid semata-mata ingin melihat aktiviti di sana. Mereka pulang awal dan Pete memberitahu Yusuf, tidak ada apa yang istimewa melainkan jemaah mendirikan sembahyang di masjid dan pulang ke rumah setelah selesai. Namun, beberapa hari kemudian, Pete menyatakan hasrat yang serupa.

“Hari sudah larut malam tetapi mereka masih belum balik. Akhirnya setelah lama menunggu saya terdengar ketukan di pintu dan sebaik membukanya, saya terkejut melihat lelaki di sebelah Mohamed yang memakai jubah dan ketayap berwarna putih dan amat mengenalinya. Rupanya lelaki itu ialah Pete! Oh Tuhan, saya memang terkejut bagaimana Pete boleh tertarik kepada Islam,” ujar Yusuf tentang perubahan yang berlaku ke atas Pete.

Yusuf yang tidak berpuas hati mendapatkan isterinya untuk bertanyakan hal tersebut. Tambah mengejutkan apabila isterinya turut tertarik dengan Islam kerana di situ terletak kebenaran yang dicari-carinya sekian lama. Untuk mendapatkan kepastian, beliau mendapatkan Mohamed dan mengajaknya berbincang di luar.

“Kami keluar berjalan dan bercakap sepanjang malam hinggalah tiba waktu bagi Mohamed untuk mendirikan solat Subuh. Ketika itu, saya tahu yang kebenaran sudah tiba akhirnya dan kini adalah masanya untuk saya memainkan peranan.

“Saya pergi ke bahagian belakang rumah dan mendapatkan papan lapis dan bersujud di atasnya seperti orang Islam bersembahyang. Saya kemudiannya berdoa, ‘Ya tuhanku, sekiranya engkau ada, berikanlah aku panduan.’ Apabila saya mengangkat kepala, hati saya mula terdetik sesuatu. Tiada pari-pari atau burung berterbangan di langit atau bunyi muzik tetapi, saya sedar ada sesuatu telah berubah,” jelasnya. Yusuf kemudiannya naik dan mandi dengan harapan membersihkan diri daripada segala dosa yang membelenggu hidup saya selama ini. Saya seolah-olah memulakan hidup baru yang berpaksikan pada kebenaran Islam.

Tanpa menunggu masa yang lama, pada pukul 11 pagi itu juga, Yusuf melafazkan dua kalimah syahadat dengan bersaksikan Pete dan Mohamed. Malah, isterinya turut mengikut jejak yang sama. Selang beberapa bulan, ayahnya juga memilih untuk memeluk agama Islam. Yusuf tidak dapat membayangkan betapa indahnya, saat-saat mereka mendirikan sembahyang berjemaah di masjid bersama para jemaah yang lain.

Selepas memeluk Islam, beliau mengeluarkan anak-anaknya daripada sekolah Kristian kepada sekolah untuk pelajar beragama Islam. Datuknya adalah orang terakhir dalam keluarga mereka yang melafazkan dua kalimah syahadat.

“Islam terlalu istimewa kerana berupaya menarik paderi seperti saya, Pete dan ayah yang selama ini kuat pada pegangan agama Kristian. Hanya dengan keagungan-Nya, kami diberi panduan untuk melihat kebenaran Islam tanpa membutakan mata dan hati masing-masing. Selepas 10 tahun, anak-anak saya juga sudah boleh menghafaz al-Quran dengan baik.

“Islam telah mengubah cara saya melihat kehidupan ini dengan lebih bermakna,” ujarnya mengenai kehidupannya selepas bergelar Muslim.

ceramah oleh Usuff Estes http://www.hearislam.com/main.php?g2_itemId=145

Home site of Usuff Estess http://islamtomorrow.com/