Blog Archives

Taubat Seorang Pelacur menjadi sebab turun Ayat 33 Surah Annuur

Hari itu, Abdullah bin Ubay bin Salul –tokoh kaum munafik– sedang istirahat, melepas penat dan lelah. Tetapi istirahat Ibnu Salul harus terusik kerana penjaga rumah tiba-tiba mengetuk pintu. Ibnu Salul terpaksa bangun dan melihat penjaga bermuka sedih di depannya. Di tangan penjaga itu ada segenggam wang. Wang itu ternyata hasil kerja pegawainya, tapi Ibnu Salul gusar sebab wang itu jumlahnya tak seperti yang diharapkan. “Sesungguhnya, wang sebesar ini adalah hasil kerja setengah hari bukan hasil kerja sehari penuh…” ujar Ibnu Salul berang. Tak ingin dituduh menggelapkan wang maka penjaga rumah itu lantas mencelah, “Tahukah tuan, kenapa penghasilan tuan sekarang ini menurun?” “Ya, aku tahu! Semua ini gara-gara Muhammad telah merampas mahkotaku. Ia menjadikan orang-orang menjauh dari budak-budak wanitaku lantaran mereka terpengaruh ajaran-ajaran yang diserukan oleh Muhammad.” Bersamaan itu, Ibnu Salul mendengarkan suara orang memanggil namanya. Ia kemudian menyuruh penjaga rumahnya untuk melihat siapa yang datang dan penjaga rumah cepat-cepat keluar. Sekeluar dari kamar, penjaga rumah mendapati beberapa orang dari Bani Tamim yang berkunjung ke Madinah. Penjaga rumah sudah mengenal mereka, yang tidak lain adalah para pembesar dari Bani Tamim yang selalu menginap beberapa hari di tempat Ibnu Salul untuk bersenang-senang setiap kali mereka kembali dari berdagang atau perjalanan dari Syam.

“Di manakah tuanmu, Ibnu Salul?” tanya salah seorang dari mereka. “Ada di dalam…” jawab penjaga rumah Tidak ada rasa canggung, para pembesar Bani Tamim itu kemudian masuk. Ibnu Salul cepat-cepat menyembunyikan wang di kamar, lantas segera keluar untuk menemui mereka. Ibnu Salul menyambut dengan hormat dan mereka pun membalas.

“Manakah wanita yang dulu pernah Anda kirimkan untuk kami?”  tanya seorang lelaki di antara para pembesar Bani Tamim itu. “Wanita yang mana, ya? Mereka itu banyak….,” jawab Ibnu Salul. “Budak wanita Anda yang paling cantik!” “Apakah dia itu Masikah?” tanya Ibnu Salul. “Ya, dia! Tidak salah lagi… ” jawab seorang laki-laki, dengan girang. “Nanti akan kami kirim dia untuk kalian semua bersama yang lainnya jika mereka mau…” “Segeralah, wahai Abul Hubab, segeralah… Nanti kami akan memberinya wang sebagai upah kepadanya.” Tak sabar ingin cepat mendapat upah, Ibnu Salul pun menyuruh penjaga rumah untuk memanggil Masikah serta budak-budak wanita yang lain. Tetapi penjaga rumah menukas, “Masikah tidak mau lagi melakukan hal itu, Tuan.” “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” ujar Ibnu Salul gusar. “Hal ini terjadi sejak hari ini, Tuanku. Ia telah meluruskan pikirannya…”

Ibnu Salul pun bangkit, pergi ke kamar Masikah dan mendorong pintu dengan kakinya. Tetapi betapa terkejutnya Ibnu Salul, saat ia melongok ke kamar ternyata mendapati Masikah, budak wanita yang ia miliki sedang menunaikan shalat. Ibnu Salul tercekat, melihat perubahan yang terjadi pada Masikah. Maka tanpa banyak berkata, Ibnu Salul mendekat dan mendera Masikah dengan kasar. “Celaka kamu! Muhammad rupanya telah mempengaruhimu!” “Tidak,” jawab Masikah setengah terkejutt “Justeru Beliau telah menunjukkan jalan terang padaku tentang kebenaran…” Jawaban Masikah seketika membuat Ibnu Salul murka. Dia kembali mendera Masikah, menyepak budak itu dengan kakinya. Masikah pun terluka. Lantas Ibnu Salul keluar, seraya memendam geram dan kecewa. Penjaga yang melihat itu berujar, “Biar aku bicara padanya, Tuan, agar ia bisa kembali seperti sediakala.”

Penjaga rumah Ibnu Salul itu memasuki kamar Masikah bersama seorang wanita. Tatkala dia melihat keadaan Masikah yang terluka, ia ikut hiba. Wanita yang ikut bersama penjaga rumah, kemudian menyuruh membalut luka yang diderita Masikah dan mengambilkan buah. Penjaga rumah itu kemudian bertanya tentang apa yang diperbuat Ibnu Salul setelah dia didatangi tamu dari Bani Tamim yang ternyata menaruh minat terhadap Masikah. Setelah itu, penjaga rumah menjelaskan bahwa orang-orang dari Bani Tamim yang menghendaki Masikah itu akan memberikan harta sebagai tebusan bagi anaknya kelak jika Masikah melahirkan. “Demi Allah, aku tak akan mendurhakai Allah lagi meskipun tubuhku dipotong-potong!” tegas Masikah.

Masikah sudah lama menjadi budak wanita Ibnu Salul. Tetapi, Ibnu Salul ternyata tidak menjadikan Masikah kerja dalam hal baik, melainkan dijadikan budak nafsu bagi lelaki yang memerlukan kesenangan. Dari situ Ibnu Salul meraih upah. Sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, Ibnu Salul sudah memaksa budak-budak wanita dari kaum Yahudi dan yang lain, termasuk Masikah. Untuk menampung mereka itu, Ibnu Salul membuka rumah yang di depannya dikibarkan bendera merah sebagai tanda pengenal. Secara sembunyi-sembunyi, Masikah kemudian mendekati wanita-wanita dari kaum Anshar dan dia bisa mendapatkan keterangan jelas tentang Islam. Dari ayat-ayat al-Qur`an yang didengar dari wanita-wanita Anshar itu akhirnya hati Masikah mendapat cahaya terang.

Di antara ayat al-Qur`an yang pernah didengar Masikah, adalah firman Allah surat Thaha [20] 1-8:

“Thaha, Kami tidak menurunkan al-Qur`an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemanyam di atas arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al-Asmaaul Husna (nama-nama yang baik)”.

Seiring perjalanan waktu, Masikah pun semakin mengenal Islam. Ia tahu Islam itu adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah. Selain itu, Islam itu mendirikan solat, membayar zakat, menjalankan puasa bulan Ramadhan dan mengerjakan haji bagi siapa yang sanggup menunaikan perjalanan ke Baitullah. Tahu bahwa ia bergelumang dengan dosa maka Masikah bertanya tentang seseorang yang berbuat dosa. Ia mendapat jawaban, bahwa pintu-pintu harapan untuk bertobat kepada Allah itu senantiasa terbuka, sebagaimana bunyi firman Allah yang dia dengar,

“Katakanlah, ‘hai, hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

(QS. Az-Zumar [39]: 53).

Maka Masikah merasa sudah waktunya untuk bertaubat, lari dari jerutan dosa. Akhirnya, malam tiba, Masikah keluar dari rumah Ibnu Salul, sambil mengendap-endap. Sementara itu, budak-budak wanita lain sedang hanyut dalam buaian kesenangan. Dalam kegelapan itu, Masikah bisa keluar rumah dengan selamat. Tapi setelah Masikah keluar ia bingung.“Ke mana saya harus pergi?” Untung, ia teringat dengan wanita tua yang pernah membuat dia sempat mendengarkan al-Qur`an, mengenal Islam dan mendapatkan hidayah Allah. Masikah lantas berjalan ke rumah wanita tua tersebut, yang tinggal seorang diri. Wanita itu menerima MAsikah dengan tangan terbuka. Esok paginya, perempuan itu mengantar Masikah pergi ke masjid bagi menemui Rasulullah SAW.  Bersamaan ketika itu Abu Bakar keluar masjid, Masikah yang dihantar wanita itu tiba di masjid.  Abu Bakar berhenti, melihat wanita yang menderita luka. Sementara itu, wanita tua yang mengantar Masikah kemudian bercerita bahawa semua itu tidak lain akibat perbuatan Ibnu Salul yang telah memaksa Masikah untuk melacur.

Abu Bakar terus masuk ke masjid untuk menemui Rasulullah, dan bercerita apa yang dialami Masikah. Rasulullah diam sesaat, sebelum kemudian turun wahyu dari Allah kepada Rasulullah yang berbunyi,

“Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu”

(QS. An-Nuur [24]: 33).

Masikah tahu, ayat yang turun itu berkaitan dengan dirinya. Maka hati Masikah semakin teguh. Sementara berita tentang Masikah tersebar dan orang jadi tahu tentang maksud dan tindakan dari Abdullah bin Ubay bin Salul yang zalim itu.

Advertisements

Kisah Pramugari Koma di Tanah Suci

Kisah dibawah adalah kisah yang wanhayati dapat dari forward email pada Jan 2006.   Semoga kita sama-sama dapat mengambil iktibar.

Untuk renungan bersama ……

Selama hampir sembilan tahun menetap di Mekah dan membantu ayah saya menguruskan jemaah haji dan umrah, saya telah melalui pelbagai pengalaman menarik dan pelik. Bagaimanapun, dalam banyak-banyak peristiwa itu, ada satu kejadian yang pasti tidak akan saya lupakan sampai bila-bila. Ianya berlaku kepada seorang wanita yang berusia di pertengahan 30-an.Kejadian itu berlaku pada pertengahan 1980-an semasa saya menguruskan satu rombongan haji. Ketika itu umur saya 20 tahun dan masih menuntut di Universiti Al-Azhar, Kaherah. Kebetulan ketika itu saya balik ke Mekah sekejap untuk menghabiskan cuti semester. Saya menetap di Mekah mulai 1981 selepas menamatkan pengajian di Sekolah Agama Gunung Semanggol, Perak. Keluarga saya memang semuanya di Mekah, cuma saya seorang saja tinggal dengan nenek saya di Perak. Walaupun masih muda, saya ditugaskan oleh bapa saya, Haji Nasron untuk menguruskan jemaah haji dan umrah memandangkan saya adalah anak sulung dalam keluarga. Berbalik kepada cerita tadi, ketibaan wanita tersebut dan rombongan haji di Lapangan Terbang Jeddah kami sambut dengan sebuah bas. Semuanya nampak riang sebab itulah kali pertama mereka mengerjakan haji. Sebaik sampai, saya membawa mereka menaiki bas dan dari situ, kami menuju ke Madinah. Alhamdulillah, segalanya berjalan lancar hinggalah kami sampai di Madinah. Tiba di Madinah, semua orang turun dari bas berkenaan. Turunlah mereka seorang demi seorang sehingga tiba kepada giliran wanita terbabit. Tapi tanpa apa-apa sebab, sebaik sahaja kakinya mencecahkan bumi Madinah, tiba-tiba wanita itu tumbang tidak sedarkan diri. Sebagai orang yang dipertanggungjawabkan mengurus jemaah itu, saya pun bergegas menuju ke arah wanita berkenaan. “Kakak ni sakit,” kata saya pada jemaah-jemaah yang lain. Suasana yang tadinya tenang serta merta bertukar menjadi cemas. Semua jemaah nampak panik dengan apa yang sedang berlaku. “Badan dia panas dan menggigil. Kakak ni tak sedarkan diri, cepat tolong saya…kita bawa dia ke hospital,” kata saya. Tanpa membuang masa, kami mengangkat wanita tersebut dan membawanya ke hospital Madinah yang terletak tidak jauh dari situ. sementara itu, jemaah yang lain dihantar ke tempat penginapan masing-masing. Sampai di hospital Madinah, wanita itu masih belum sedarkan diri. Berbagai-bagai usaha dilakukan oleh doktor untuk memulihkannya, namun semuanya gagal. Sehinggalah ke petang, wanita itu masih lagi koma. Sementara itu, tugas mengendalikan jemaah perlu saya teruskan. Saya terpaksa meninggalkan wanita tersebut terlantar dihospital berkenaan. Namun dalam kesibukan menguruskan jemaah, saya menghubungi hospital Madinah untuk mengetahui perkembangan wanita tersebut. Bagaimanapun, saya diberitahu dia masih tidak sedarkan diri. Selepas dua hari, wanita itu masih juga tidak sedarkan diri. Saya makin cemas, maklumlah, itu adalah pengalaman pertama saya berhadapan dengan situasi seperti itu. Memandangkan usaha untuk memulihkannya semuanya gagal, maka wanita itu dihantar ke Hospital Abdul Aziz Jeddah untuk mendapatkan rawatan lanjut sebab pada masa itu hospital di Jeddah lebih lengkap kemudahannya berbanding hospital madinah. Namun usaha untuk memulihkannya masih tidak berhasil. Jadual haji mesti diteruskan. Kami bertolak pula ke Mekah untuk mengerjakan ibadat haji. Selesai haji, sekali lagi saya pergi ke Jeddah. Malangnya, bila sampai di Hospital King Abdul Aziz, saya diberitahu oleh doktor bahawa wanita tersebut masih koma. Bagaimanapun, kata doktor, keadaannya stabil. Melihat keadaannya itu, saya ambil keputusan untuk menunggunya di hospital. Selepas dua hari menunggu, akhirnya wanita itu membuka matanya. Dari sudut matanya yang terbuka sedikit itu, dia memandang ke arah saya. Tapi sebaik saja terpandang wajah saya, wanita tersebut terus memeluk saya dengan erat sambil menangis teresak- esak. Sudah tentu saya terkejut sebab saya ni bukan muhrimnya. Tambahan pula kenapa saja dia tiba-tiba menangis?? Saya bertanya kepada wanita tersebut, “Kenapa kakak menangis?” “Mazlan.. kakak taubat dah Lan. Kakak menyesal, kakak takkan buat lagi benda-benda yang tak baik. Kakak bertaubat, betul-betul taubat.” “Kenapa pulak ni kak tiba-tiba saja nak bertaubat?” tanya saya masih terpinga-pinga. Wanita itu terus menangis teresak-esak tanpa menjawab pertanyaan saya itu. Seketika kemudian dia bersuara, menceritakan kepada saya mengapa dia berkelakuan demikian, cerita yang bagi saya perlu diambil iktibar oleh kita semua. Katanya, “Mazlan, kakak ni sudah berumah tangga, kahwin dengan lelaki orang putih. Tapi kakak silap. Kakak ini cuma Islam pada nama dan keturunan saja. Ibadat satu apa pun kakak tak buat. Kakak tak sembahyang, tak puasa, semua amalan ibadat kakak dan suami kakak tak buat. Rumah kakak penuh dengan botol arak. Suami kakak tu kakak sepak terajang, kakak pukul-pukul saja,” katanya tersedu-sedan. “Habis yang kakak pergi haji ini?” “Yalah…kakak tengok orang lain pergi haji, kakak pun teringin juga nak pergi.” “Jadi apa sebab yang kakak menangis sampai macam ni sekali. Ada sesuatu ke yang kakak alami semasa akit?” tanya saya lagi. Dengan suara tersekat-sekat, wanita itu menceritakan, “Mazlan…Allah itu maha besar, maha agung, maha kaya. Semasa koma tu, kakak telah diazab dengan seksaan yang benar-benar pedih atas segala kesilapan yang telah kakak buat selama ini. “Betul ke kak?” tanya saya, terkejut. “Betul mazlan. Semasa koma itu kakak telah ditunjukkan oleh Allah tentang balasan yang Allah beri kepada kakak. Balasan azab Lan, bukan balasan syurga. Kakak rasa seperti diazab di neraka. Kakak ni seumur hidup tak pernah pakai tudung. Sebagai balasan, rambut kakak di tarik dengan bara api. Sakitnya tak boleh nak kakak ceritakan macam mana pedihnya. Menjerit-jerit kakak minta ampun minta maaf kepada Allah.” “Bukan itu saja, buah dada kakak pula diikat dan disepit dengan penyepit yang dibuat daripada bara api, kemudian ditarik ke sana-sini…putus, jatuh ke dalam api neraka. buah dada kakak rentung terbakar, panasnya bukan main. Kakak menjerit, menangis kesakitan. Kakak masukkan tangan ke dalam api itu dan kakak ambil buah dada tu balik.” tanpa mempedulikan pesakit lain dan jururawat memerhatikannya wanita itu terus bercerita. Menurutnya lagi, setiap hari dia diseksa, tanpa henti, 24 jam sehari. Dia tidak diberi peluang langsung untuk berehat atau dilepaskan daripada hukuman sepanjang masa koma itu dilaluinya dengan azab yang amat pedih. Dengan suara tersekat-sekat, dengan air mata yang makin banyak bercucuran, wanita itu meneruskan ceritanya, “Hari-hari kakak diseksa. Bila rambut kakak ditarik dengan bara api, sakitnya terasa seperti nak tercabut kulit kepala.iekah untuk mengerjakan ibada Panasnya pula menyebabkan otak kakak terasa seperti menggelegak. Azab itu cukup pedih…pedih yang amat sangat…tak boleh nak diceritakan.” sambil bercerita, wanita itu terus meraung, menangis teresak-esak. Nyata dia betul-betul menyesal dengan kesilapannya dahulu. Saya pula terpegun, kaget dan menggigil mendengar ceritanya. Begitu sekali balasan Allah kepada umatnya yang ingkar. “Mazlan…kakak ni nama saja Islam, tapi kakak minum arak, kakak main judi dan segala macam dosa besar. Kerana kakak suka makan dan minum apa yang diharamkan Allah, semasa tidak sedarkan diri itu kakak telah diberi makan buah-buahan yang berduri tajam. Tak ada isi pada buah itu melainkan duri-duri saja. tapi kakak perlu makan buah-buah itu sebab kakak betul-betul lapar. “Bila ditelan saja buah-buah itu, duri-durinya menikam kerongkong kakak dan bila sampai ke perut, ia menikam pula perut kakak. Sedangkan jari yang tercucuk jarum pun terasa sakitnya, inikan pula duri-duri besar menyucuk kerongkong dan perut kita. Habis saja buah-buah itu kakak makan, kakak diberi pula makan bara-bara api. Bila kakak masukkan saja bara api itu ke dalam mulut, seluruh badan kakak rasa seperti terbakar hangus. Panasnya cuma Allah saja yang tahu. Api yang ada di dunia ini tidak akan sama dengan kepanasannya. Selepas habis bara api, kakak minta minuman, tapi…kakak dihidangkan pula dengan minuman yang dibuat dari nanah. Baunya cukup busuk. Tapi kakak terpaksa minum sebab kakak sangat dahaga. Semua terpaksa kakak lalui…azabnya tak pernah rasa, tak pernah kakak alami sepanjang kakak hidup di dunia ini.” Saya terus mendengar cerita wanita itu dengan tekun. Terasa sungguh kebesaran Allah. “Masa diazab itu, kakak merayu mohon kepada Allah supaya berilah kakak nyawa sekali lagi, berilah kakak peluang untuk hidup sekali lagi. Tak berhenti-henti kakak memohon. Kakak kata kakak akan buktikan bahawa kakak tak akan ulangi lagi kesilapan dahulu. Kakak berjanji tak akan ingkar perintah allah akan jadi umat yg soleh. Kakak berjanji kalau kakak dihidupkan semula, kakak akan tampung segala kekurangan dan kesilapan kakak dahulu, kakak akan mengaji, akan sembahyang, akan puasa yang selama ini kakak tinggalkan.” Saya termenung mendengar cerita wanita itu. benarlah, Allah itu maha agung dan maha berkuasa. kita manusia ini tak akan terlepas daripada balasannya. Kalau baik amalan kita maka baiklah balasan yang akan kita terima, kalau buruk amalan kita, maka azablah kita di akhirat kelak. Alhamdulillah, wanita itu telah menyaksikan sendiri kebenaran Allah. “Ini bukan mimpi Mazlan. Kalau mimpi azabnya takkan sampai pedih macam tu sekali. Kakak bertaubat Mazlan, kakak tak akan ulangi lagi kesilapan kakak dahulu. Kakak bertaubat…kakak taubat nasuha,” katanya sambil menangis-nangis. Sejak itu wanita berkenaan benar-benar berubah. Bila saya membawanya ke Mekah, dia menjadi jemaah yang paling warak. Amal ibadahnya tak henti-henti. contohnya, kalau wanita itu pergi ke masjid pada waktu maghrib, dia cuma akan balik ke bilik- nya semula selepas sembahyang subuh. “Kakak…yang kakak sembahyang teruk-teruk ni kenapa. Kakak kena jaga juga kesihatan diri kakak. lepas sembahyang Isyak tu kakak baliklah, makan nasi ke, berehat ke…” tegur saya. “Tak apalah Mazlan. Kakak ada bawa buah kurma. Bolehlah kakak makan semasa kakak lapar.” menurut wanita itu, sepanjang berada di dalam masjidil Haram, dia mengqadakan semula sembahyang yang ditinggalkannya dahulu. Selain itu dia berdoa, mohon kepada Allah supaya mengampunkan dosanya. Saya kasihan melihatkan keadaan wanita itu, takut kerana ibadah dan tekanan perasaan yang keterlaluan dia akan jatuh sakit pula. Jadi saya menasihatkan supaya tidak beribadat keterlaluan hingga mengabaikan kesihatannya. “Tak boleh Mazlan. Kakak takut…kakak dah merasai pedihnya azab tuhan. Mazlan tak rasa, Mazlan tak tau. Kalau Mazlan dah merasai azab itu, Mazlan juga akan jadi macam kakak. Kakak betul- betul bertaubat.” Wanita itu juga berpesan kepada saya, katanya, “Mazlan, kalau ada perempuan Islam yang tak pakai tudung, Mazlan ingatkanlah pada mereka, pakailah tudung. Cukuplah kakak seorang saja yang merasai seksaan itu, kakak tak mau wanita lain pula jadi macam kakak. Semasa diazab, kakak tengok undang-undang yang Allah beri ialah setiap sehelai rambut wanita Islam yang sengaja diperlihatkan kepada orang lelaki yang bukan muhrimnya, maka dia diberikan satu dosa. Kalau 10 orang lelaki bukan muhrim tengok sehelai rambut kakakini, bermakna kakak mendapat 10 dosa.” “Tapi Mazlan, rambut kakak ini banyak jumlahnya, beribu-ribu. Kalau seorang tengok rambut kakak, ini bermakna beribu-ribu dosa yang kakak dapat. Kalau 10 orang tengok, macam mana? Kalau 100 orang tengok? Itu sehari, kalau hari-hari kita tak pakai tudung macam kakak ni??? Allah…Kakak berazam, balik saja dari haji ini, kakak akan minta tolong dari ustaz supaya ajar suami akak sembahyang, puasa, mengaji, buat ibadat. Kakak nak ajak suami pergi haji. Seperti mana kakak, suami kakak tu Islam pada nama saja. Tapi itu semua kesilapan kakak. Kakak sudah bawa dia masuk Islam, tapi kakak tak bimbing dia. Bukan itu saja, kakak pula yang jadi seperti orang bukan Islam.” Sejak balik dari haji itu, saya tak dengar lagi apa-apa cerita tentang wanita tersebut. Bagaimanapun, saya percaya dia sudah menjadi wanita yang benar-benar solehah. Adakah dia berbohong kepada saya tentang ceritanya diazab semasa koma? Tidak. Saya percaya dia bercakap benar. Jika dia berbohong, kenapa dia berubah dan bertaubat nasuha? Satu lagi, cubalah bandingkan azab yang diterimanya itu dengan azab yang digambarkan oleh Allah dan Nabi dalam Al-Quran dan hadis. Adakah ia bercanggah? Benar, apa yang berlaku itu memang kita tidak dapat membuktikannya secara saintifik, tapi bukankah soal dosa dan pahala, syurga dan neraka itu perkara ghaib? Janganlah bila kita sudah meninggal dunia, bila kita sudah diazab barulah kita mahu percaya bahawa “Oh… memang betul apa yang Allah dan Rasul katakan. Aku menyesal…” itu dah terlambat.